Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dok:MI.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dok:MI.

Menko Darmin Minta Pelaku Bisnis Tidak Takut Ketidakpastian Ekonomi

Ekonomi ekonomi indonesia
Nia Deviyana • 30 April 2019 20:15
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis meningkatnya ketidakpastian ekonomi global tidak membuat tidak membuat pertumbuhan ekonomi menurun.
 
Oleh sebab itu, Darmin mengimbau pelaku bisnis untuk tidak takut. Dia menjabarkan ekonomi Indonesia tetap meningkat dengan pertumbuhan pada 2018 sebesar 5,17 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih baik bila dibandingkan 2017 yang tercatat 5,07 persen.
 
"Dalam situasi seperti itu, pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,17 persen relatif cukup baik. Karena, angka 5,17 persen ini hampir tidak terjadi di negara lain, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terjadi pada saat ini," ujar Darmin saat memberikan keynote speech di acara HSBC Economic Update, di Jakarta, Selasa, 30 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah,lanjut Menko Darmin, telah menyusun kebijakan-kebijakan yang membuat ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak perekonomian global. Kebijakan tersebut antara lain meningkatkan daya saing dan perbaikan iklim usaha. Beberapa di antaranya melalui Online Single Submission (OSS), pemberian fasilitas insentif perpajakan, dan pengembangan program vokasional.
 
Dalam jangka pendek, pemerintah juga melakukan perbaikan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor dan memilih komoditas sektor-sektor unggulan. Kemudian, kebijakan relaksasi perpajakan.
 
"Untuk pertama kali, kita merumuskan membuat aturan mengenai tax holiday yang sebesar sekarang. Hampir 200 kegiatan industri kini eligible untuk meperoleh tax holiday," terang Darmin.
 
Selain aturannya menjadi lebih simpel, tax holiday kini dapat diberikan untuk masa pajak 5 hingga 20 tahun. Adapun industri yang diberi fasilitas fiskal adalah kegiatan industri yang mulanya banyak sekali impor, seperti petrochemical dengan semua turunannya, besi dan baja termasuk elektronik, serta basic chemical termasuk emas. Ketiga, mendorong peningkatan ekspor.
 
"Pemerintah mendorong agar komoditas-komoditas unggulan yang berasal dari alam mendapat hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambahnya. Selain itu, simplifikasi prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, diplomasi ekonomi, dan peningkatan akses pasar," tutur Darmin.
 
Selanjutnya, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan kualitas SDM telah dirumuskan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan vokasi yang terdiri dari tiga layer yaitu Balai Latihan Kerja (BLK), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Politeknik.
 
Pemerintah, lanjut Darmin, telah merumuskan super deduction bahwa apapun yang dibantu dunia industri dalam rangka diklat vokasi, bisa dengan meminjamkan tenaga ahli, menghibahkan mesin untuk praktek, serta menyediakan tempat magang, akan diperhitungkan dalam bentuk nilai dan akan diganti 200 persen dari apa yang dia keluarkan.
 
Damrin menjelaskan program vokasi juga perlu disempurnakan agar kegiatan belajar mengajar efektif membentuk lulusan yang siap kerja sesuai kebutuhan industri.
 
"Yang mau dilakukan pemerintah, setiap SMK harus punya modul yang jelas. Setiap tahun siswa perlu mendapat 2 standar kompetensi,” tukas Darmin.
 
Sebagai penutup, Darmin menegaskan kembali bahwa dengan mempertimbangkan risiko global perang dagang dan risiko global lainnya, maka pemerintah menyatakan tetap optimistis pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik pada 2019.
 
"Walaupun kondisi global tidak mendukung, kondisi domestik dan kebijakan yang telah diambil bakal mendorong pertumbuhan di 2019 mencapai momentum emas ekonomi Indonesia," pungkas Darmin.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif