Rektor Universitas Al Azhar Asep Saefuddin - - Foto: Medcom.id/ Angga Bratadharma
Rektor Universitas Al Azhar Asep Saefuddin - - Foto: Medcom.id/ Angga Bratadharma

Ekonomi Syariah dan Halal Wajib Dikembangkan di Indonesia

Ekonomi ekonomi syariah
Angga Bratadharma • 10 Desember 2018 11:00
Jakarta: Rektor Universitas Al Azhar Asep Saefuddin menilai terdapat dua aspek yang belum dioptimalkan di Indonesia yakni, ekonomi syariah dan berkaitan dengan kehalalan. Padahal, keduanya saling berkaitan dan Indonesia seharusnya bisa menjadi rujukan syariah dan halal sejalan dengan modal besar yang dimiliki.

"Syariah dan halal ini jarang dilakukan risetnya. Padahal, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sudah barang tentu kita harusnya menjadi rujukan untuk syariah ataupun halal," kata Asep, dalam Seminar Indonesia Shariah Economic Outlook bertajuk "Peluang Bisnis Syarah di Tahun Politik 2019", di Universitas Al Azhar, Jakarta, Senin, 10 Desember 2018.

Sementara negara asing yang bukan negara Muslim baik dari segi penduduk maupun secara legal, tambah Asep, menganggap Indonesia punya rujukan dalam bidang syariah dan halal. Tetapi, lanjutnya, harus diakui pada kenyataanya Indonesia tertinggal oleh negara lain terutama Malaysia. Untuk diketahui, sentral halal dan syariah di negeri Jiran tidak hanya di Kuala Lumpur.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Syariah dan halal center di negara Jiran yang saya tahu itu ada juga di negara asing seperti di Tiongkok, Korea, dan Jepang. Itu (semua) dikuasai oleh mereka (Malaysia). Padahal penduduknya tidak seperti kita dalam arti jumlah penduduk. Di sini, kita kurang memanfaatkan itu," tegas Asep. Ia menilai kondisi itu terjadi lantaran masyarakat Indonesia memiliki karakteristik instant society. Padahal, syariah memiliki efek berkeadilan bagi masyarakat. Bahkan, syariah dari segi ilmu pengetahuan sangat luar biasa dan berpeluang memberi efek positif bagi masyarakat.

Asep tidak menampik banyak sentral-sentral syariah dan halal selain Malaysia yakni, seperti di London dan Swedia. Sedangkan di Indonesia walaupun ada tapi belum begitu terkenal. Perlu ada upaya bersama termasuk mengedepankan riset-riset dari sisi akademisi untuk mengembangkan syariah dan halal di Tanah Air.

"Di kita (sentral syariah dan halal) mungkin ada tapi tidak terkenal. Karenanya, melalui seminar Indonesia Shariah Economic Outlook diharapkan membuka pikiran kita dan mata kita untuk mengoptimalkan isu syariah dan halah termasuk konsep-konsep keilmuan sehingga riset-riset di dalam bidang ekonomi khususnya syariah bisa terus dikembangkan," pungkasnya.










(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi