Kepala Kajian Makro LPEM Universitas Indonesia Febrio Kacaribu. Foto ; Medcom/Husen.
Kepala Kajian Makro LPEM Universitas Indonesia Febrio Kacaribu. Foto ; Medcom/Husen.

Pertumbuhan Ekonomi Akhir Tahun Diproyeksi Tetap Loyo

Ekonomi Kabinet Jokowi-Maruf
Desi Angriani • 07 November 2019 17:26
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi akhir 2019 diproyeksi hanya lima persen atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut menyusul penurunan angka investasi dan ekspor dalam beberapa kuartal terakhir.
 
Kepala Kajian Makro LPEM Universitas Indonesia Febrio Kacaribu mengatakan dalam dua tahun terakhir investasi tumbuh di bawah enam persen, sedangkan ekspor tumbuh ke bawah alias negatif.
 
"Kita lihat ekonomi tahun ini bisa lima persen atau 5,1 persen. Ya trennya itu susah untuk diingkari bahwa ada tren perlambatan," kata Febrio kepada Medcom.id, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 7 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya tren perlambatan ekonomi Indonesia seiring dengan melambatnya ekonomi global. Penurunan ekspor Indonesia merupakan imbas dari anjloknya harga komoditas dunia serta perang dagang antara AS dan Tiongkok.
 
"Kalau ekspor itu tadi faktor terbesarnya trade war tapi di sisi lain biaya ekspor dan impor pun belum ada perbaikan," tambah dia.
 
Sementara lesunya pertumbuhan investasi disebabkan oleh regulasi dan iklim investasi yang belum kondusif. Ia menambahkan reformasi regulasi dan reformasi perpajakan belum mampu mengundang minat investor.
 
"Karena iklim usaha jelek dan sudah melakukan reform cukup banyak dalam lima tahun terakhir tapi Vietnam melakukan hal sama dan mereka lebih cepat. Kita peringkat 73 dan mereka peringkat 70," tutur Febrio.
 
Di sisi lain, Febrio menyarankan pemerintah lebih menyederhanakan proses dan biaya ekspor-impor demi meningkatkan ease of doing bussiness Indonesia.
 
"Perizinan dibikin mudah, proses dan biaya ekspor dan impor dibikin streamline-nya mungkin dan benefitnya akan mendorong ekspor," pungkasnya.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2019 tumbuh sebesar 5,02 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 5,05 persen (yoy), pun melambat ketimbang periode sama 2018 sebesar 5,17 persen (yoy).
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan besaran pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) kuartal III-2019 sebesar Rp4.067,8 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) yang mencapai Rp2.818,9 triliun.
 
"Jadi dengan posisi ini kalau kita bandingkan dengan kuartal kedua 2019, pertumbuhan ekonomi kita masih tumbuh sekitar 3,06 persen (q to q). Kalau kita gabung pada kuartal pertama, kedua, dan ketiga, maka pertumbuhan ekonomi kita 5,04 persen," ujar Suhariyanto dalam jumpa pers di kantor BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Selasa, 5 November 2019.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif