Ekonomi Indonesia. Foto : MI.
Ekonomi Indonesia. Foto : MI.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lampaui Negara Maju di 2022

Ekonomi Ekonomi Indonesia pandemi covid-19 corona virus corona di indonesia Negara Maju
Husen Miftahudin • 07 Desember 2021 17:52
Jakarta: Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan ekspektasi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju pada 2022 akan lebih rendah dibandingkan dengan capaian tahun ini, utamanya bagi negara maju yang ekonominya sudah terakselerasi di 2021.
 
"Di 2022 memang negara yang sudah akselerasi ekonominya di 2021 kemudian akan mencatat pertumbuhan yang relatif lebih rendah. Jadi seperti Amerika Serikat (AS) itu sudah lebih tinggi, kemudian di 2022-nya dia relatif lebih rendah," ujar Andry dalam BSI Market Outlook 2022 yang disiarkan secara virtual, Selasa, 7 Desember 2021.
 
Indonesia sebutnya, ekspektasi pada 2022 justru lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Pada tahun ini, Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,5 persen dan akan meningkat pada 2022 menjadi 5,2 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hitungan kami kalau di kuartal keempat nanti (pertumbuhan ekonomi Indonesia) empat persen saja, maka pertumbuhan full year kita di 3,44 persen pada 2021. Kalau lima persen, jadi 3,69 persen, ya rata-rata di situ," jelasnya.
 
Sementara, negara-negara maju seperti AS, Eropa, Inggris, Tiongkok, serta Korea Selatan (Korsel) pada tahun depan ekspektasi pertumbuhan ekonominya akan lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan di tahun ini.
 
AS misalnya, pertumbuhan pada tahun ini diperkirakan mencapai 5,5 persen dan akan merosot ke 3,9 persen pada 2022. Sementara Eropa pada 2021 ini akan mencapai 5,1 persen, dan melorot ke posisi 4,2 persen pada tahun depan.
 
Kemudian Inggris dari 6,9 persen di 2021 menjadi 4,9 persen di 2022. Tiongkok pun demikian, dari 8,0 persen di 2021 menjadi 5,3 persen di 2022. Sedangkan Korsel dari 4,0 persen di tahun ini menjadi 3,0 persen di 2022.
 
"Memang kalau kita bicara negara maju, pertumbuhan lima persen itu pasti ada something deviasinya, jadi ya karena memang kemarin ada krisis. Biasanya tumbuh dua sampai tiga persen kalau advance countries, itu normalnya," papar Andry.
 
Terdapat beberapa alasan tidak meratanya pertumbuhan ekonomi secara global. Salah satunya karena akselerasi vaksinasi yang tidak serempak di berbagai belahan dunia. Kondisi tersebut membuat negara-negara maju, utamanya produsen vaksin, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan negara-negara berkembang.
 
"Rata-rata pertumbuhan pascacovid, ini menariknya diprediksi masih relatif lebih rendah daripada rata-rata lima tahun sebelum covid. Jadi challenge-nya memang pertumbuhan global itu akan relatif lebih rendah," pungkas Andry.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif