Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

APBN 2021 Dihadapkan pada Dilema

Ekonomi APBN 2021 Pemulihan Ekonomi Nasional
Annisa ayu artanti • 23 November 2020 13:27
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai postur Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2021 dihadapkan pada dilema.
 
Ekonom Senior Indef M. Fadhil Hasan mengatakan demikian lantaran jika pemerintah mengambil kebijakan penggunaan APBN terlalu ekspansif, maka akan mengganggu stabilitas fiskal jangka menengah. Namun di sisi lain, pemerintah harus melakukan upaya pemulihan ekonomi.
 
"Ada satu dilema, pertama kebutuhan jangka pendek untuk melakukan ekspansi APBN ini, tapi disisi lain kalau terlalu ekspansif sustainability atau konsolidasi fiskal jangka menengah terganggu," kata Fadhil dalam diskusi virtual, Senin, 23 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebutkan, medium term fiskal RI saat ini mengalami sakit yang cukup parah yang akan memengaruhi agenda pemerintah dalam jangka menengah dan panjang.
 
Kendati demikian, Fadhil melihat sejauh ini pemerintah telah berusaha mencari suatu keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan upaya menjaga implikasi fiskal jangka menengah panjang agar terpelihara.
 
Lebih lanjut, dari sisi pendapatan, menurut Fadhil, kebutuhan ekspansi dari APBN masih akan memerlukan bank sentral melalui skema burden sharing. Pendapatan negara tahun depan sebesar Rp1.473,6 triliun atau turun sebesar 21,9 persen dibandingkan sebelum pandemi.
 
Sedangkan dari sisi belanja dalam APBN 2021 naik 8,3 persen menjadi Rp2.750 triliun. Pada pos belanja ini, menurutnya, yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengalokasi belanja di tengah kebutuhan untuk ekspansi ekonomi dari APBN belum efektif.
 
"Pertumbuhan Belanja negara itu masih menumpuk di akhir tahun. ini belum berubah. Anggaran belanja daerah juga belum efektif karena simpanan Pemda di bank itu masih cukup banyak banyak," pungkasnya.
 
Adapun proyeksi Indef untuk beberapa indikator ekonomi 2021 sebagai berikut:
 
1. Pertumbuhan ekonomi: 3 persen.
2. Nilai tukar rupiah: Rp14.800 per USD.
3. Tingkat inflasi: 2,5 persen.
4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT): 7,8 persen.
5. Tingkat kemiskinan: 10,5 persen.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif