Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh 10,1%

Ekonomi utang luar negeri
Suci Sedya Utami • 15 Agustus 2019 11:25
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia hingga akhir kuartal II-2019 sebesar USD391,8 miliar. Posisi tersebut tumbuh 10,1 persen dari periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
 
Selain itu pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 8,1 persen (yoy).
 
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan hal ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Peningkatan pertumbuhan ULN terutama didorong oleh ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta," kata Onny dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Posisi ULN hingga kuartal II terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD195,5 miliar serta utang swasta (termasuk Badan Usaha Milik Negara/BUMN) sebesar USD196,3 miliar.
 
Sementara posisi ULN pemerintah tumbuh 9,1 persen (yoy) dan lebih tinggi pertumbuhannya dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 3,6 persen (yoy). Pertumbuhan ULN pemerintah yang meningkat sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
 
Onny mengatakan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia yang semakin meningkat, seiring dengan kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard & Poor’s pada akhir Mei 2019, mendorong pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan global oleh nonresiden pada triwulan II-2019.
 
Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,9 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (15,9 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,2 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,0 persen).
 
Sedangkan posisi ULN swasta pada akhir kuartal II tumbuh 11,4 persen (yoy). Posisi ini tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 13,3 persen (yoy). Perlambatan ULN swasta terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pinjaman oleh korporasi.
 
Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen.
 
Bank sentral menegaskan struktur ULN Indonesia tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal II-2019 sebesar 36,8 persen, membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya.
 
Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 87 persen dari total ULN. Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
 
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," jelas Onny.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif