Ilustrasi. FOTO: AFP.
Ilustrasi. FOTO: AFP.

Diklaim Sehat, Utang Luar Negeri Naik Jadi Rp5.501,6 Triliun

Ekonomi utang luar negeri bank indonesia
Husen Miftahudin • 15 Januari 2020 19:43
Jakarta: Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia membengkak menjadi USD401,4 miliar atau setara Rp5.501,6 triliun (kurs referensi Jisdor) pada November 2019. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), ULN tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,3 persen year on year (yoy).
 
Utang tersebut terdiri dari utang sektor publik yang berasal dari pemerintah dan bank sentral sebesar USD201,4 miliar atau setara Rp2.760,4 triliun, serta utang luar negeri sektor swasta termasuk BUMN sebanyak USD200,1 miliar atau setara dengan Rp2.742,6 triliun.
 
"ULN Indonesia tersebut tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 12 persen (yoy). Perkembangan ULN tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah maupun ULN swasta," tulis Bank Indonesia dinukil dari laman resminya, Rabu, 15 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun ULN pemerintah diklaim juga mengalami pertumbuhan melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Posisi ULN pemerintah pada akhir November 2019 tercatat sebesar USD198,6 miliar (Rp2.722 triliun) atau tumbuh 10,1 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen (yoy).
 
Posisi ULN pemerintah tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya, terutama karena pelunasan pinjaman bilateral dan multilateral yang jatuh tempo pada periode laporan.
 
Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 19 persen dari total ULN pemerintah.
 
"Kemudian sektor konstruksi (16,5 persen); sektor jasa pendidikan (16,1 pendidikan); sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,4 persen); serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,4 persen)."
 
Sementara utang luar negeri swasta tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya. ULN swasta tumbuh 6,9 persen (yoy) pada akhir November 2019, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,7 persen (yoy).
 
Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya pelunasan surat berharga domestik yang jatuh tempo, meskipun pada periode yang sama terdapat penerbitan surat utang perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) dan penarikan pinjaman oleh perbankan.
 
Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi; sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA); sektor industri pengolahan; serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen.
 
Bank sentral menyebut struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi tersebut tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada November 2019 sebesar 35,9 persen yang relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya. Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,5 persen dari total ULN.
 
"Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutup rilis Bank Indonesia tersebut.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif