Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Benarkah Ekonomi Indonesia seperti Rwanda?

Ekonomi ekonomi indonesia
Desi Angriani • 28 Desember 2018 19:05
Jakarta: Indonesia disebut setingkat dengan negara-negara miskin di Afrika, Karibia, dan Oceania. Pernyataan itu dilontarkan oleh calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto pada pekan lalu.
 
Lantas benarkah Indonesia tercatat sebagai negara miskin? Berdasarkan data yang dihimpun Medcom.id dari Bank Dunia dan trading economics, Indonesia justru masuk ke dalam jajaran negara berkembang. Bahkan, Indonesia merupakan negara anggota G20 atau kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia.
 
Dari sisi pertumbuhan domestik bruto (PDB) saja, ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar USD3.846 per kapita pada 2017. Angka tersebut lima kali lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi Rwanda, Haiti, Chad, dan Kiribati.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tercatat, Rwanda hanya tumbuh sebesar USD748,4 per kapita, disusul Haiti sebesar USD765,7 per kapita, dan Chad yang hanya sebesar USD669,9 per kapita pada tahun yang sama. Namun, Kiribati tumbuh sedikit lebih baik di angka USD1.685,2 per kapita pada 2017.
 
Begitu pula dengan angka inflasi, utang dan pengangguran terkini. Ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara berkembang alias tidak bisa disejajarkan dengan negara miskin.
 
Tercatat, angka inflasi Indonesia pada November 2018 berada pada rentang 3,23 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut lima kali lebih rendah dari inflasi negara Haiti yang mencapai 14,3 persen (yoy).
 
Sementara angka inflasi Rwanda justru jauh terperosok hingga minus 1 persen (yoy) pada November 2018. Disusul inflasi negara Chad yang berada sedikit di bawah Indonesia, yakni 2,6 persen (yoy).
 


 
Jika tingkat inflasi terlalu tinggi, dapat membahayakan perekonomian suatu negara. Sebaliknya, angka inflasi yang terlalu rendah mengindikasikan terjadi perlambatan daya beli atau konsumsi masyarakat.
 
Utang Indonesia pun hanya 28,7 persen terhadap PDB 2017, sedangkan utang Rwanda, Chad dan Haiti tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yakni masing-masing 40,2 persen, 47,60 persen, dan 32,6 persen terhadap PDB 2017.
 
Untuk tingkat pengangguran, Indonesia juga berada jauh di bawah Rwanda dan Haiti, yakni di angka 5,3 persen pada September 2018. Kedua negara miskin tersebut memiliki tingkat pengangguran cukup tinggi di angka 16 persen dan 14 persen. Berbeda dengan Rwanda dan Haiti, tingkat pengangguran Chad sejajar dengan Indonesia, yakni di angka 5,89 persen pada Desember 2017.
 
Menurut Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, Prabowo semestinya membandingkan Indonesia dengan negara-negara berkembang. Perbandingan itu juga hendaknya menggunakan data dan indikator yang jelas.
 
"Belum dari sisi demografi terlalu jomplang kalau dibandingkan. Biasanya Indonesia komparasinya dengan negara G20 atau negara berkembang. Seharusnya dalam membandingkan kondisi ekonomi antar negara indikator yang dipakai harus jelas," kata Bhima saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 28 Desember 2018.
 
Ia menambahkanberdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk Poverty and Shared Prosperity 2018, tingkat kemiskinan Indonesia hanya sebesar 7,2 persen atau belasan kali lipat di bawah negara-negara di Afrika Selatan. Tercatat tingkat kemiskinan Rwanda mencapai 51,5 persen, Sub Sahara Frika 41,1 persen dan Afrika Selatan 18,9 persen.
 
"Artinya kurang apple to apple membandingkan Indonesia dan negara di Afrika," tegas Bhima.
 


 
Hal serupa diutarakan oleh Jubir PSI Dedek Prayudi dalam akun Twitternya @uki_dedek. Ia bilang membandingkan suatu negara akan lebih pas menggunakan presentase (rate) ketimbang memakai angka absolute. Dikarenakan rate memiliki fungsi kontrol bias terhadap jumlah penduduk.
 
"Angka pengangguran (rate) bukan ditarik dari jumlah penduduk total tapi dari jumlah angkatan kerja," cuitnya pada Rabu, 26 Desember 2018.
 
Menurut Dedek, tim Prabowo kerap membangun narasi-narasi yang tidak benar terkait kondisi ekonomi Indonesia. "Sebetulnya sudah di japur yang benar. Haiti itu tidak terletak di Afrika," tambah dia.
 
Prabowo sebelumnya menyebut Indonesia saat ini setingkat dengan sejumlah negara miskin di Benua Afrika. Hal itu ia sampaikan di hadapan ribuaan jemaah Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo, Minggu, 24 Desember 2018.
 
"Kita (Indonesia) setingkat dengan negara miskin di Benua Afrika, ada Rwanda, Haiti, dan pulau-pulau kecil Kiribati," ucap Prabowo.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi