Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani
Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani

Pemerintah Diminta Waspadai Risiko dari Kenaikan Utang dan Penurunan Pajak

Ekonomi Ekonomi Indonesia tax ratio penerimaan pajak
Eko Nordiansyah • 23 Oktober 2021 18:55
Jakarta: Ekonom Narasi Institute Achmad Nur Hidayat menilai kinerja 2 tahun kepemimpinan pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin ditandai dua fitur utama yaitu akumulasi utang dan penurunan penerimaan pajak. Hidayat menilai dua hal tersebut dua persoalan fundamental yang menghambat ekonomi Iindonesia tumbuh lebih tinggi di masa depan.
 
"Hal tersebut tidak mungkin dibiarkan oleh keluarga besar bangsa Indonesia yang memiliki visi Indonesia menjadi lima besar pemimpin dunia. Ini masuk zona merah kepemimpinan ekonomi yang menghambat larinya ekonomi lebih kencang," kata dia dalam keterangan resminya, Sabtu, 23 Oktober 2021.
 
Ia mengatakan, dalam kurun 2020-2021, Indonesia sudah masuk jebakan utang (debt trap) sehingga untuk membayar bunga utang perlu menambah utang baru, karena tanpa utang baru Indonesia menjadi negara default (tidak mampu bayar utang). Di sisi lain, rasio pajak atas PDB (tax ratio) terus menurun yaitu diprediksi hanya 8,1 persen tahun ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ditambah lagi utang Indonesia tercatat menembus Rp9.800 triliun di Oktober 2021 menyentuh 40,49 persen dari PDB. Indonesia membayar bunga utang utang 2021 sebesar Rp370 triliun harus dengan utang baru, belum lagi membayar pokok utang jatuh tempo  jatuh tempo 2021 sebesar hampir Rp400 triliun tidak ada cash selain menambah utang baru lagi," ujar dia.
 
Hidayat menambahkan, penambahan utang baru untuk membayar bunga utang dan pokoknya terlihat dari primary balance (keseimbangan primer) neraca pembayaran yang terus negatif. Defisit keseimbangan primer Indonesia tercatat sebesar Rp116,35 triliun hingga semester I 2021 atau meningkat 16,8 persen dari periode sama tahun lalu sebesar Rp99,6 triliun.
 
"Keseimbangan primer merupakan selisih dari pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Karena terjadi defisit, maka tidak ada dana untuk membayar bunga utang, sehingga sebagian atau seluruh bunga utang dibayar dengan penambahan utang baru. Itulah kesimpulan negatifnya keseimbangan primer," jelas dia.
 
Ia pun memandang, keseimbangan primer negatif tersebut sudah makin parah dalam dua tahun terakhir, karena Indonesia memilih strategi fiskalnya dengan gali lubang tutup jurang. Hidayat khawatir jika strategi ini diteruskan maka akan membuat ekonomi Indonesia memasuki fase kerentanan yang paling dalam.
 
"Bila strategi fiskal tersebut terus dilakukan maka Indonesia akan memasuki kerentanannya yang paling dalam. Nilai tukar menjadi terekspose dari serangan spekulan global dan IHSG menjadi valatile di tahun-tahun kedepan" pungkasnya.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif