Illustrasi. Medcom/Bagus.
Illustrasi. Medcom/Bagus.

Anggota Banggar Ingin Besaran Pajak Mobil Berdasarkan Emisi

Ekonomi perpajakan
Eko Nordiansyah • 26 Juni 2019 16:15
Jakarta: Anggota Badan Anggaran (Banggar) dari Fraksi PAN Primus Yustisio menginginkan pemerintah menetapkan pajak mobil mengikuti banyak negara maju di dunia. Saat ini negara-negara maju menerapkan pajak mobil berdasarkan emisi yang dikeluarkan.
 
Menurutnya, Indonesia masih mengenakan pajak kendaraan roda empat berdasarkan kapasitas mesin (cc). Padahal di negara maju, semakin kecil emisi yang dihasilkan oleh mobil maka semakin kecil pajak yang dikenakannya.
 
"Justru semkin kecil emisi yang dikeluarkan, semakin kecil pajaknya. Kita terbalik, mobil listrik lebih besar dari yang cc-nya besar," kata dia di ruang rapat Badan Anggaran (Banggar), Senayan, Jakarta, Rabu, 26 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya mencontohkan negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand mengenakan pajak lebih rendah bagi kendaraan yang bahan bakarnya rendah. Jika Indonesia menerapkan hal yang sama, maka akan banyak produsen mobil mewah yang mau masuk ke Indonesia.
 
"Kalau bikin kebijakan mendukung, enggak mungkin beli Rp5 miliar mau yang boros, tidak mungkin. Di Jerman ada Mercedez, Audi, BMW, VW, itu mereka enggak berniat datangkan mobil hybdrid ke sini karena cc-nya leih besar di atas 3.000 cc," jelas dia.
 
Pemerintah sendiri sudah menyepakati perubahan pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil yang memiliki cc rendah. Tak hanya itu, pemerintah juga memberi insentif fiskal tambahan bagi mobil rendah emisi.
 
"Ke depan kita dihadapkan situasi seperti ini, pemerintah harus sigap. Kita diuntungkan dari polusi tdk ada, pemborosan tidak ada. Kita harapkan ada insentif pajak untuk kendaraan-kendaraan yang (rendah emisi) seperti ini," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif