Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani

Kenaikan Cukai Rokok Diusulkan Kurang dari 10%, Ini Alasannya

Ekonomi cukai tembakau pandemi covid-19 Industri Hasil Tembakau
Eko Nordiansyah • 07 Desember 2021 20:46
Jakarta: Dampak kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022 dinilai bakal sangat memberatkan bagi pelaku industri hasil tembakau (IHT). Seluruh elemen IHT, mulai dari tenaga kerja, petani tembakau, hingga peritel berharap agar kenaikan cukai rokok tidak terjadi, terlebih situasi saat ini masih di tengah pandemi covid-19.
 
Namun, jika pemerintah tetap ingin melanjutkan rencana kenaikan cukai, sejumlah pihak merekomendasikan agar kenaikannya tidak lebih dari 10 persen. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan pemerintah sebaiknya jangan menaikkan tarif CHT terlalu tinggi.
 
"Mungkin sekitar 10 persen atau di bawahnya masih oke. Kenapa jangan tinggi-tinggi? Karena pandemi membuat perekonomian sangat terpuruk luar biasa," kata dia kepada wartawan, Selasa, 7 Desember 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, di masa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya pulih 100 persen ini kenaikan cukai yang tidak terlalu tinggi akan membantu meringankan beban industri untuk bertahan. Ia mengatakan, kenaikan cukai sebaiknya tidak lebih dari 10 persen karena kenaikan cukai dua tahun ke belakang terlalu tinggi dan memberatkan industri.
 
"Naik boleh saja, karena kita tahu bujet fiskal dari pemerintah sangat terbatas. Apalagi di masa pandemi banyak pengeluaran pemerintah, sementara pendapatan dari pajak pun turun, dan satu-satunya bisa menopang pendapatan negara itu ya fiskal," ungkapnya.
 
Esther mengatakan jika cukai rokok dinaikkan lebih dari 10 persen di saat industri sedang dalam ketidakpastian di tengah masa pandemi, maka industri akan kaget. Pasalnya, kenaikan cukai sangat berpengaruh terhadap ongkos produksi, yang pada akhirnya justru berlawanan dengan upaya pemulihan ekonomi.
 
Sementara itu Dosen Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta AB Widyanta mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan perekonomian dalam merumuskan kebijakan cukai. Selain itu, kesejahteraan petani tembakau, petani cengkih, dan pekerja IHT yang ada didalamnya juga perlu diperhatikan.
 
Ia menyebut, pemerintah semestinya lebih peka terhadap kebutuhan-kebutuhan petani dan pekerja yang berada di level terbawah. Widyanta berharap pemerintah menyiapkan roadmap yang jelas agar pengumuman kenaikan cukai setiap tahun tidak membuat banyak pihak gelagapan dan lebih memberikan kepastian.
 
"Mereka ini yang menyangga ekonomi kita kan. Jangan menutup mata dari peran dan kontribusi besar dari petani dan pekerja ini. Kalau cukai dinaikkan, ada implikasi pada petani dan buruh, karena ini pandemi di mana ekonomi sulit begini, pemerintah tolong toleransi sedikit," ujar dia.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif