Dana Awal Tahun

Pemerintah Rilis Surat Utang Rp52 Triliun

05 Desember 2018 10:42 WIB
surat utang
Pemerintah Rilis Surat Utang Rp52 Triliun
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti. (FOTO: dok Kemenkeu)
Jakarta: Pemerintah menerbitkan surat utang negara (SUN) dalam denominasi dolar Amerika Serikat senilai USD3 miliar atau kurang lebih Rp52 triliun. Surat utang global itu untuk pembiayaan pre-funding tahun anggaran 2019.

Keterangan pers Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diterima di Jakarta, Selasa, 4 Desember 2018, menyatakan global bonds tersebut terdiri atas tiga seri penerbitan, yaitu RI0224, RI0229, dan RI0249.

Nominal penerbitan seri RI0224 ditetapkan sebesar USD750 juta dengan tenor selama lima tahun serta jatuh tempo pada 11 Februari 2024 dan memiliki tingkat kupon 4,45 persen. Adapun nominal penerbitan seri RI0229 ditetapkan USD1,25 miliar dengan tenor 10 tahun, jatuh tempo pada 11 Februari 2029 dan tingkat kupon 4,75 persen.

Untuk nominal penerbitan seri RI0249 ditetapkan USD1 miliar dengan tenor selama 30 tahun serta jatuh tempo pada 11 Februari 2049 dan memiliki tingkat kupon 5,35 persen.

Pemerintah mengakses pasar dolar AS untuk melakukan pre-funding kebutuhan pembiayaan di 2019 dengan memanfaatkan kondisi pasar pasca-pertemuan G-20 di Argentina, pekan lalu.

Pemerintah telah menyusun strategi pemenuhan pembiayaan utang APBN 2019 yang komprehensif dan bersifat hati-hati (prudent).

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti mengungkapkan pembiayaan tersebut antara lain direncanakan akan dipenuhi dari utang dalam denominasi valuta asing (valas) dan dalam denominasi rupiah, baik berupa surat berharga negara (SBN) maupun pinjaman.

"Strategi ini dilandasi oleh kebijakan pembiayaan utang yang diarahkan pada pengelolaan pembiayaan utang secara prudent dan akuntabel," ujarnya.

Kebijakan tersebut, kata dia, dilakukan dengan menjaga rasio utang terhadap PDB pada level yang aman, memanfaatkan utang untuk kegiatan yang produktif, menjaga komposisi utang dalam batas yang terkendali, dan menjaga solvabilitas.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai langkah pemerintah tersebut sudah tepat. Dia menilai penerbitan surat berharga baik global maupun domestik pada tahun ini akan memberikan sejumlah keuntungan.

"Pertama demand-nya sedang tinggi sehingga menambah masuknya aliran modal asing. Keuntungan lainnya, cadangan devisa negara akan bertambah." (Media Indonesia)



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id