Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (MI/ROMMY PUJIANTO)
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (MI/ROMMY PUJIANTO)

Pengetatan Moneter AS Bikin USD Kembali ke Negara Asal

Ekonomi dolar as
Suci Sedya Utami • 25 Januari 2017 06:00
medcom.id, Jakarta: Kebijakan fiskal ekspansif dan moneter ketat yang akan dijalankan Amerika Serikat (AS) akan membuat mata uang USD pulang kampung. Hal ini tidak terlepas dari recana Federal Reserve atau the Fed yang berencana menaikkan suku bunga acuannya.
 
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, salah satu yang akan membuat USD menguat yakni kenaikan suku bunga AS. Kadin memperkirakan the Fed bakal menaikkan tingkat suku bunga 3-5 kali atau 75-150 basis poin pada tahun ini.
 
Selain itu, kebijakan proteksionis di bidang fiskal yang bakal diterapkan Presiden AS Donald Trump untuk memberikan pinalty berupa pajak bagi perusahaan yang tak membangun pabrik di dalam negeri, mau tidak mau membuat USD kembali ke negara asalnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dampaknya ke Indonesia, dana akan kembali ke AS, maka akan terjadi penguatan USD. Kemungkinan besar rupiah tertekan, bahkan tidak heran (nanti) bisa di level Rp14.000 per USD," kata Ketua Kadin Indonesia Rosan Roeslani, ditemui di Graha CIMB Niaga, Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa 24 Januari.
 
Sementara itu, kata dia, kebijakan proteksionis Trump akan berdampak ke perdagangan. Meski memang tidak langsung efeknya ke Indonesia. Ia mengatakan, pengaruh langsungnya lebih pada perdagangan AS dan Tiongkok. AS akan membatasi ekspor Tiongkok ke negaranya sehingga membuat permintaan barang Tiongkok di Negeri Paman Sam itu menurun.
 
Jika permintaan ke Tiongkok menurun maka efek lanjutannya adalah penurunan permintaan ekspor Indonesia, karena Tiongkok banyak mengekspor barang mentah atau barang baku dari Indonesia. Sehingga jika dianalogikan Tiongkok akan membatasi pembelian bahan baku di Indonesia, ketika permintaan terhadap produksinya menurun.
 
"Tapi dari Pemerintah AS menyampaikan bahwa mereka terbuka dengan bilateral trade walaupun mereka menolak multilateral trade. Untuk yang terasa tentunya sektor finansial, pasar modal, kalau misalnya duit balik ke sana, pasar modal kita kena," jelas Rosan.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif