Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Gelontoran Stimulus Bisa Bikin Pertumbuhan Ekonomi Membaik

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Stimulus Ekonomi Imbas Korona
Husen Miftahudin • 02 September 2020 17:46
Jakarta: Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memandang gelontoran stimulus dan bantuan yang diberikan pemerintah bisa mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Bahkan ekonomi nasional untuk keseluruhan tahun ini bisa membaik di nol persen.
 
"Secara keseluruhan tahun kemungkinan besar (pertumbuhan ekonomi) kita itu antara minus dua sampai nol persen. Perbaikan datanya terjadi di kuartal keempat karena bantuan-bantuan pemerintah itu," ujar Ibrahim kepada Medcom.id, Rabu, 2 September 2020.
 
Ibrahim yang juga menjabat sebagai Direktur PT TRFX Garuda Berjangka ini merinci proyeksinya, kuartal III-2020 perekonomian Indonesia berada di kisaran minus dua persen hingga minus satu persen. Ekonomi nasional di kuartal ketiga ini lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya yang terkontraksi hingga minus 5,32 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian pada kuartal IV-2020 ekonomi Indonesia diramal akan tumbuh positif dua persen. Hal ini didorong oleh bantuan dan stimulus lanjutan yang diberikan pemerintah, sehingga mengungkit daya beli dan konsumsi masyarakat sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Sehingga keseluruhan tahun 2020 ini ekonomi Indonesia bisa nol persen. Kalau PDB (Produk Domestik Bruto) di tahun 2020 itu nol persen, itu sudah hebat karena berhasil tidak negatif di tengah pandemi covid-19 ini," jelasnya.
 
Berdasarkan catatan Medcom.id, ada enam bantuan pemerintah yang langsung dirasakan masyarakat. Di antaranya ialah bantuan sosial (bansos) sembako yang diberikan kepada pemegang Kartu Sembako kepada 20 juta keluarga atau 80 juta orang, kemudian bansos tunai yang diberikan kepada 10 juta keluarga atau 40 juta orang yang berada dalam golongan termiskin.
 
Lalu ada restrukturisasi kredit, baik untuk pinjaman di perbankan, perusahaan pembiayaan, hingga lembaga keuangan mikro. Ada juga banpres produktif, bantuan ini berupa bantuan hibah modal usaha sebesar Rp2,4 juta yang diberikan kepada 9,16 juta usaha mikro.
 
Selanjutnya subsidi gaji, berupa bantuan tunai sebesar Rp2,4 juta yang dicairkan dalam dua tahap kepada pekerja dengan upah di bawah Rp5 juta, total ada 15,7 juta penerima bantuan ini. Terakhir Kredit Usaha Rakyat (KUR) Super Mikro, yakni subsidi pembiayaan bunga nol persen dengan nilai pinjaman maksimum Rp10 juta, diberikan kepada pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan ibu rumah tangga produktif.
 
Pemerintah sebelumnya kembali melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 ini menjadi di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Pada proyeksi sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan ramalan perekonomian nasional sepanjang 2020 tumbuh pada kisaran minus 0,4 persen sampai positif 2,3 persen.
 
"Berdasarkan data hingga Juli dan Agustus, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2020 akan lebih rendah dari perkirakan pada Maret April lalu, yaitu untuk tahun 2020 ini kami memperkirakan pertumbuhan ada di range minus 1,1 persen hingga 0,2 persen. Jadi hanya mendekati nol (persen)," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, Selasa, 1 September 2020.
 
Menurut Sri Mulyani, revisi ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI 2020 oleh berbagai lembaga internasional. Asian Development Bank (ADB) misalnya, dari yang sebelumnya ekonomi Indonesia bisa tumbuh di 2,5 persen, direvisi ke bawah menjadi minus 1,0 persen.
 
Dana Moneter Internasional (IMF) juga demikian, merevisi ramalan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 0,3 persen. Padahal pada Maret-April lalu, IMF optimistis perekonomian nasional Indonesia bisa tumbuh 0,5 persen.
 
"World Bank yang tadinya memperkirakan antara minus 3,5 persen hingga positif 2,1 persen untuk 2020, revisi terakhir dari proyeksi mereka pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah nol persen," paparnya.
 
Selanjutnya Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang tadinya memperkirakan ekonomi RI 2020 tumbuh hingga 4,8 persen, direvisi sangat tajam menjadi kisaran minus 3,9 persen sampai minus 2,8 persen.
 
"Ini yang menggambarkan bahwa keseluruhan proyeksi ekonomi dari semua lembaga dan forecast-nya sangat belum stabil karena tergantung dari asumsi skenario mengenai pandemi dan normalisasi kegiatan ekonomi di semua negara," pungkas Sri Mulyani.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif