Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (AFP PHOTO/PRAKASH SINGH )
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (AFP PHOTO/PRAKASH SINGH )

Menkeu: Risiko Indonesia Terdampak Perang Dagang Kecil

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia Perang dagang
Antara • 17 Juli 2019 08:31
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melihat Indonesia memiliki risiko perdagangan lebih kecil saat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terjadi. Meski demikian, tetap ada harapan agar perang dagang tersebut bisa segera terhenti demi kepentingan bersama.
 
"Ada berita baik dan berita buruknya. Berita baiknya, pada saat semua negara jatuh, Indonesia jadi seperti tidak terkena dampak," ujar Sri Mulyani, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019.
 
Dikatakan buruk, lanjut dia, ketika peluang untuk masuk dalam rantai pasok terbuka, sektor perdagangan dan manufaktur Indonesia masih belum berdaya untuk itu. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebutkan negara-negara ASEAN terkena dampak berbeda-beda dari perang dagang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Semakin negara tersebut ada di dalam rantai pasokan global, negara itu bakal berpengaruh besar terhadap perang dagang. "Semakin negara itu mendominasi sektor manufaktur dan perdagangannya, semakin negaranya akan terdampak sangat besar," ujar Sri Mulyani.
 
Ia menilai semuanya menjadi kompensasi dari kebijakan setiap negara dalam mengurangi dampak negatif perdagangan global tersebut di dalam negeri masing-masing. "Pasti selalu ada sisi negatifnya. Itu yang selalu dipikirkan pembuat kebijakan, sehingga kadang ada juga yang tidak berani membuat kebijakan," ujar Sri Mulyani.
 
Tapi pembuat kebijakan membuat kebijakan dengan kesadaran bahwa setiap kebijakan pasti selalu ada sisi benar yang harus dipelajari konsekuensinya. "Jika Anda mau melakukan sesuatu, Ada harus tahu konsekuensi apa yang ada di balik itu," ujar Sri Mulyani.
 
Pemerintah Indonesia telah memagari intensitas perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok dengan mengurangi ketergantungan pada USD lewat kerja sama bilateral. "Salah satunya lewat rintisan Bank Indonesia bersama beberapa mitra dagang untuk menggunakan mata uang bilateral (bilateral currency)," ujar Sri Mulyani.
 
Selain itu, pemerintah juga melakukan apa yang disebut perdagangan bilateral atau perdagangan regional. Lalu bagaimana supaya Indonesia bisa mengambil peluang menjadi rantai pasokan dunia yang ada di depan mata? Ia mengatakan kalau caranya adalah meningkatkan investasi dan ekspor.
 
"Presiden Jokowi berkali-kali bilang kalau ia ingin investasi dan ekspor dibenahi," ujar Sri Mulyani. Namun, Investasi di Indonesia memiliki karakteristik bahwa sektor manufaktur tidak menjadi poin yang terbesar.
 
"Bahkan waktu Indonesia melakukan industrialisasi sekitar 1980-1990, kemudian terjadi krisis ekonomi 1997-1998, sejak itu manufaktur sektor itu mundur," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif