Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

Dibayangi Tekanan Eksternal, BI Tingkatkan Koordinasi Jaga Stabilitas Rupiah

Ekonomi Bank Indonesia Kurs Rupiah The Fed Ekonomi Indonesia
Husen Miftahudin • 26 Januari 2022 12:41
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan menguatkan strategi demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di sepanjang 2022. Dia tidak memungkiri dalam setahun ini mata uang Garuda tersebut bakal menghadapi tantangan dan tekanan berat, utamanya dari faktor eksternal.
 
"Nilai tukar memang akan mendapat tekanan (berat) di tahun ini. Tapi kami terus komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu)," ujar Perry dalam Laporan Transparansi dan Akuntabilitas BI 2021, Rabu, 26 Januari 2022.
 
Dalam acara laporan tahunan tersebut, BI juga menyampaikan optimismenya terhadap ekonomi Indonesia yang tumbuh di kisaran 4,7-5,4 persen di 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada inflasi, bank sentral mengakui Indeks Harga Konsumen (IHK) di sepanjang tahun ini mengalami kenaikan imbas pulihnya aktivitas dan mobilitas masyarakat. Namun, Bank Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa inflasi akan tetap terjaga pada sasaran di kisaran tiga persen plus minus satu persen.
 
"Bank Indonesia terus berkomitmen bersama pemerintah, KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), dan berbagai pihak memperkuat sinergi untuk pemulihan ekonomi. Insyaallah tahun 2022 akan lebih tinggi (capaian pertumbuhan ekonomi). Mari kita optimistis, mari kita bersinergi," tegas Perry.
 
Soal stabilitas nilai tukar rupiah di 2022, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikin M. Juhro sebelumnya mengkhawatirkan adanya tekanan eksternal cukup kuat yang bisa membuat pergerakan mata uang Garuda tersebut 'terhimpit'.
 
Ia melihat langkah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), yang akan lebih hawkish atau ketat pada tahun ini dan 2023. Hal ini merupakan imbas dari kenaikan inflasi di tengah tidak seimbangnya permintaan dan pasokan.
 
"Dengan tekanan yang cukup tinggi dan persistence ini, memang respons dari The Fed diprakirakan akan lebih hawkish. Kalau kita lihat dalam beberapa bacaan, FFR (Fed Funds Rate) ini akan naik sekitar empat kali di dalam 2022 dan tiga kali di 2023," ujar Solikin dalam acara Economic Outlook yang diselenggarakan Hipmi, Selasa, 25 Januari 2022.
 
Solikin melanjutkan bahwa kondisi tersebut akan berpengaruh besar terhadap pasar keuangan domestik, meskipun likuiditas pada industri perbankan sangat mencukupi (ample). Walaupun di tengah perbaikan intermediasi keuangan, pergerakan likuiditas cenderung moderat.
 
Dalam kondisi likuiditas yang mencukupi tersebut, stabilitas eksternal menghadapi tekanan lantaran adanya kenaikan bunga acuan dari The Fed. Langkah kebijakan moneter yang dilakukan Bank Sentral AS tersebut berdampak pada tertahannya aliran modal masuk (capital inflows) ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menyebabkan stabilitas nilai tukar rupiah terganggu.
 
"Juga kita melihat perkembangan yield SBN (imbal hasil Surat Berharga Negara) akan terpengaruh, dan ini tentunya akan menjadi tantangan di dalam pengendalian nilai tukar (rupiah)," ungkap Solikin.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif