Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Merger Bank Syariah BUMN, Cara Pemerintah Bangunkan 'Raksasa Tidur'

Ekonomi Merger Bank Syariah joko widodo
Husen Miftahudin • 28 Oktober 2020 19:33
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong akselerasi percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional di tengah besarnya potensi yang ada saat ini. Dia bilang, industri keuangan syariah nasional saat ini ibarat raksasa yang sedang tidur.
 
"Saat ini pemerintah memiliki concern besar untuk membangkitkan raksasa ini, salah satunya dengan membangun satu bank syariah terbesar di Indonesia," ujar Jokowi dalam Opening Ceremony Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 7th secara virtual di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2020.
 
Secara sederhana, jelas Presiden, pemerintah melebur semua aset bank syariah milik negara menjadi satu. Tujuannya, untuk melahirkan bank syariah raksasa terbesar yang ada di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Total aset tiga bank BUMN yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah sampai semester pertama 2020 adalah Rp214 triliun. Sebuah angka yang besar," ucap dia.
 
Upaya Jokowi membangunkan raksasa yang sedang tertidur juga dilakukan dengan membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Pembentukan KNEKS pada awal 2020 dinilai lebih komprehensif, karena mengembangkan potensi ekonomi dan keuangan syariah secara menyeluruh.
 
"KNEKS untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah dengan strategi besar melakukan penguatan halal value chain, penguatan keuangan Islam, penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan penguatan ekonomi digital," ungkap Jokowi.
 
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengharapkan agar langkah merger (penggabungan) bank-bank syariah BUMN dapat memperkuat peran dan keberadaan bank syariah lokal di kancah dunia. Hal ini lantaran Indonesia belum memiliki bank syariah berskala besar.
 
"Karena ini sudah menjadi gagasan dan untuk memperkuat (peran bank syariah). Karena kita kan tidak mempunyai bank syariah yang besar yang masuk dalam 20 besar dunia, itu tidak ada," ujar Ma'ruf, Kamis, 6 Agustus 2020.
 
Selain itu, sebut Ma'ruf, langkah merger tersebut juga bertujuan untuk meminimalisasi jumlah bank syariah yang memiliki pangsa pasar sedikit. "Ini dilakukan agar jangan terlalu banyak bank (syariah), tapi potensinya kecil-kecil," ungkapnya.
 
Ma'ruf menyatakan bahwa potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang besar di Indonesia harus dibarengi dengan pemanfaatan sumber daya perbankan syariah nasional. Sehingga nantinya bank syariah BUMN dapat lebih berperan dalam memberi pembiayaan proyek-proyek besar di Tanah Air.
 
"Penggabungan perbankan syariah BUMN itu agar menjadi bank besar sehingga bisa lebih mengembangkan sayapnya. Selain itu juga bisa melayani proyek-proyek besar atau kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih besar sehingga nantinya bisa lebih cepat dalam mendorong (pertumbuhan perekonomian nasional)," paparnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif