Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Digitalisasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Dorong RI Jadi Negara Maju

Ekonomi Bank Indonesia transformasi digital
Husen Miftahudin • 29 Oktober 2020 19:58
Jakarta: Pemerintah Indonesia memiliki cita-cita besar untuk menjadi negara maju pada 2045. Dalam konteks ini Indonesia harus menjadi negara berpenghasilan tinggi dan menerapkan penuh digitalisasi dalam ekonomi dan keuangannya.
 
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan penerapan digitalisasi bisa menjadi salah satu pendorong utama dalam mewujudkan RI menjadi negara maju. Selain itu, pemanfaatan potensi ekonomi dan keuangan syariah juga bisa mendorong Indonesia merealisasikan cita-cita tersebut.
 
"Dengan sudut pandang ini, kami percaya bahwa digitalisasi serta ekonomi dan keuangan syariah akan memainkan peran besar untuk mencapai tujuan menjadi negara maju pada 2045," ungkap Sugeng dalam rangkaian acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 7th secara virtual di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, ada perjalanan panjang dan tantangan untuk mencapai cita-cita tersebut. Pasalnya, saat ini Indonesia termasuk negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dengan rata-rata pendapatan nasional atau Gross National Income (GNI) sebesar USD4.174,9 per kapita per tahun.
 
Dalam klasifikasi negara yang dinilai berdasarkan GNI oleh World Bank, negara maju alias high income country harus memiliki GNI di atas USD12.055 per kapita per tahun. Artinya, Indonesia perlu meningkatkan rata-rata pendapatan sebanyak USD8.000 per kapita.
 
"Masih panjang yang harus ditempuh untuk mencapai ini, perjalanannya untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi. Oleh karena itu kami tidak ingin terjebak dalam situasi ini, kami tidak ingin terjebak dalam status sebagai negara middle income trap," tegasnya.
 
Soal ekonomi dan keuangan syariah, Indonesia punya potensi besar terkait hal ini. Selain sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia, Indonesia juga juga memiliki 28 ribu pondok pesantren dengan lebih dari dua juta santri.
 
Dari sisi aksesibilitas, sekitar 133 persen penduduk Indonesia sudah memiliki ponsel. Dalam hal ini Sugeng berpandangan bahwa setiap penduduk Indonesia memiliki lebih dari dua ponsel.
 
Selain itu, tambahnya, Indonesia juga sudah memiliki 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), 164 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah, dan 4.500 lembaga keuangan makro syariah.
 
"Indonesia juga memiliki sisi supply dan demand yang kuat di bidang ekonomi dan keuangan syariah, termasuk digitalisasinya," pungkas Sugeng.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif