Ilustrasi IHSG terus menguat - - Foto: Antara/ Puspa
Ilustrasi IHSG terus menguat - - Foto: Antara/ Puspa

Langkah OJK Dorong Penguatan IHSG di Tengah Pandemi

Ekonomi IHSG OJK pasar saham pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 15 Januari 2021 21:27
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan pandemi covid-19 yang menyebar sepanjang 2020 merupakan badai besar bagi kegiatan ekonomi dalam dan luar negeri.
 
Pada sektor jasa keuangan, pandemi berdampak pada meningkatnya beberapa potensi risiko, dari sisi risiko likuiditas berupa aliran dana keluar, risiko kredit berupa debitur yang default akibat penurunan aktivitas usahanya, serta tekanan profitabilitas baik pada perusahaan maupun debitur. Pasar saham pun terkena cipratannya, ini terlihat dari level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai titik terendah sebesar 3.937,6 pada 24 Maret 2020.
 
"Namun IHSG sampai dengan akhir tahun telah menguat dan ditutup pada level 5.979,7 pada 30 Desember 2020. Pada perdagangan saham 14 Januari 2021, IHSG ditutup pada level 6.428,3," ujar Wimboh dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2021 secara virtual, Jumat, 15 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, penguatan ini tidak terlepas dari meningkatnya jumlah investor di pasar modal yang mencapai 3,88 juta investor. Jumlah ini mengalami kenaikan bila dibandingkan jumlah investor pasar modal sepanjang 2019 yang hanya sebanyak 2,48 juta investor.
 
"Penguatan IHSG ini sejalan dengan inisiatif strategis OJK untuk meningkatkan basis investor domestik dan pendalaman pasar keuangan," ungkap dia.
 
Selain itu, OJK juga fokus untuk meningkatkan integrasi pasar dengan serangkaian kebijakan dan langkah-langkah pengawasan yang lebih tegas. Dengan integritas pasar yang lebih baik, aktivitas penghimpunan dana melalui penawaran umum relatif besar.

 
"Dapat kami sampaikan bahwa investor telah raising fund di pasar modal dalam 2020 mencapai Rp118,7 triliun dengan 53 emiten baru. Ini adalah yang tertinggi di ASEAN, dan kebanyakan adalah investor ritel," papar Wimboh.
 
Dalam upaya mengantisipasi dampak pandemi covid-19 terhadap pasar keuangan dan sektor jasa keuangan, OJK juga telah mengeluarkan forward looking and countercyclical policies yang ditujukan untuk mengurangi volatilitas pasar dan outflow non-residen, serta menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
 
"Pemerintah dan Bank Indonesia juga sangat membantu dengan menggelontorkan stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif."

 
Wimboh menjelaskan OJK bersama pemerintah dan Bank Indonesia telah memberikan ruang bagi sektor riil untuk bertahan dalam menghadapi dampak pelemahan ekonomi khususnya dalam memitigasi risiko gagal bayar debitur (default) dan risiko likuiditas di pasar keuangan.
 
"Dengan berbagai kebijakan tersebut, perekonomian domestik secara bertahap terus membaik didorong oleh percepatan realisasi stimulus fiskal dan perbaikan ekspor, serta kebijakan restrukturisasi kredit untuk meringankan beban masyarakat, pelaku sektor informal, dan UMKM serta pelaku usaha lainnya," tutup Wimboh.  
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif