Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Kurs Rupiah Sore Ditutup Merosot ke Rp14.272/USD

Ekonomi Kurs Rupiah
Angga Bratadharma • 28 September 2021 16:36
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Selasa terpantau tertekan ketimbang pada pembukaan pagi tadi di level Rp14.261 per USD. Mata uang Garuda tak mampu menahan penguatan mata uang Paman Sam jelang The Fed memberlakukan pengetatan kebijakan.
 
Mengutip Bloomberg, Selasa, 28 September 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ditutup melemah 0,14 persen atau setara 20 poin ke posisi Rp14.272 per USD. Hari ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.256 hingga Rp14.281 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di level Rp14.222 per USD.
 
Di sisi lain, dolar AS menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Hal itu didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS menjelang sejumlah pembicara Federal Reserve minggu ini yang dapat menegaskan ekspektasi dimulainya pengurangan pembelian aset sebelum akhir tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan mencapai level tertinggi tiga bulan di 1,516 persen pada Senin waktu setempat. Para pejabat Fed, termasuk satu anggota dewan berpengaruh, mengaitkan pengurangan pembelian obligasi bulanan Fed dengan pertumbuhan pekerjaan yang berkelanjutan.
 
Adapun laporan ketenagakerjaan September sekarang menjadi pemicu potensial untuk tapering obligasi bank sentral. Ketua Fed Jerome Powell, akan bergabung dengan Menteri Keuangan Janet Yellen, berbicara di depan Kongres pada Selasa waktu setempat.
 
Indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap enam rival utamanya, naik 0,1 persen menjadi 93,37. Greenback juga memperpanjang kenaikan setelah data menunjukkan pesanan baru dan pengiriman barang modal utama buatan AS meningkat kuat pada Agustus, naik 0,5 persen di tengah permintaan yang kuat untuk komputer dan produk elektronik.
 
Tetapi pasar lebih fokus pada pasar surat utang negara AS. Imbal hasil AS naik ke level tertinggi sejak akhir Juni untuk mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat setelah The Fed mengumumkan pekan lalu bahwa mungkin mulai mengurangi stimulus segera setelah November dan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan.
 
"Seberapa banyak tapering itu sendiri bukanlah kejutan, akhir yang lebih awal dari programnya akan memperkuat bahwa risiko penurunan terhadap dolar AS telah berkurang," pungkas Ahli Strategi Senior Valas TD Securities Mazen Issa.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif