Rupiah. Foto : MI/Usman Iskandar.
Rupiah. Foto : MI/Usman Iskandar.

Omicron Masih Bayangi Pasar Keuangan Global, Penyebab Rupiah Tersungkur

Ekonomi rupiah Pasar Keuangan Varian Baru Covid-19 PPKM Darurat Omicron
Husen Miftahudin • 02 Desember 2021 16:29
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini kembali melemah akibat gejolak di pasar keuangan global imbas kekhawatiran investor terhadap ancaman varian baru omicron covid-19.
 
"Dalam perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 51 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 55 poin di level Rp14.397 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.346 per USD," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Desember 2021.
 
Ibrahim menerangkan bahwa pasar saat ini diguncang oleh berita bahwa omicron bisa lebih menular daripada varian sebelumnya, yang mengindikasikan kembalinya bank perjalanan dan penguncian yang dapat berdampak pada pemulihan ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"AS melaporkan kasus varian pertamanya pada Rabu, karena Australia, Inggris, Kanada, dan Jepang, juga melaporkan kasus meskipun perbatasan diperketat," paparnya.
 
Sementara itu, lanjut dia, jumlah kasus Omicron di Afrika Selatan, tempat ditemukannya varian empat pekan lalu, meningkat dua kali lipat dari Selasa hingga Rabu.
 
Terlepas dari ketidakpastian seputar omicron dan dampaknya, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menegaskan kembali pendiriannya bahwa Fed akan mempertimbangkan untuk mempercepat pengurangan aset. Ini juga bisa berarti kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.
 
"Meskipun The Fed telah mengadopsi nada inflasi yang lebih hawkish, Bank of England dan Bank Sentral Eropa tetap berpegang pada nada dovish mereka. Di sisi data, indeks manajer pembelian manufaktur Institute of Supply Management lebih tinggi dari perkiraan 61,1 pada bulan November," terang Ibrahim.
 
Dari faktor domestik, pemerintah memproyeksikan inflasi 2021 akan mencapai 1,9 persen (yoy), melihat perkembangan inflasi November 2021 yang tercatat 1,75 persen (yoy). Dengan demikian, inflasi masih berpotensi menguat secara bertahap seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat saat ini akibat pelonggaran PPKM.
 
"Walaupun ada pengetatan PPKM di seluruh wilayah Indonesia serta penghapusan libur Natal dan Tahun Baru, momen konsumsi masyarakat masih akan meningkat, sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi. Namun, potensi tekanan inflasi lebih tinggi akan bisa terkendali," jelasnya.
 
Di sisi lain, dalam masa pemulihan ekonomi, pemerintah terus konsisten untuk mendukung terjaganya harga energi domestik untuk menjaga momentum pemulihan konsumsi dan daya beli masyarakat.
 
"Selain itu, pemerintah juga menetapkan kebijakan dalam mengantisipasi lonjakan mobilitas dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan meningkatkan kembali level PPKM di momen Natal dan Tahun Baru," jelas Ibrahim.
 
Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level Rp14.397 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 51 poin atau setara 0,36 persen dari posisi Rp14.346 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di zona merah pada posisi Rp14.370 per USD. Rupiah melemah sebanyak 20 poin atau setara 0,14 persen dari Rp14.350 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.378 per USD atau turun 25 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.353 per USD.
 
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.380 per USD hingga Rp14.440 per USD," pungkas Ibrahim.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif