Ilustrasi. Foto : MI/Panca.
Ilustrasi. Foto : MI/Panca.

Pendapatan Surya Semesta Internusa Naik 8,8%

Ekonomi emiten
Husen Miftahudin • 02 April 2020 19:18
Jakarta: Perusahaan publik yang bergerak di bidang konstruksi, PT Surya Semesta Internusa Tbk mencetak pendapatan sebesar Rp4 triliun sepanjang 2019. Angka itu naik 8,8 persen dari realisasi pendapatan di tahun sebelumnya sebesar Rp3,68 triliun. Total pendapatan yang didapatkan mayoritas berasal dari bisnis konstruksi.
 
Perseroan mendapat pendapatan dari bisnis konstruksi sebanyak Rp2,61 triliun atau naik 6,4 persen dari porsi sebesar Rp2,45 triliun. Sementara pendapatan dari bisnis perhotelan sebesar Rp811,4 miliar, pendapatan bisnis properti sebanyak Rp588,2 miliar, dan pendapatan dari bisnis lain-lain sebesar Rp11,3 miliar.
 
"Pendapatan yang meningkat memberikan dampak positif bagi laju laba kotor perusahaan dengan kode ticker SSIA menjadi Rp1,09 triliun di tahun lalu, dari porsi laba kotor sebesar Rp980,9 miliar di 2018. Dengan tingkat EBITDA perusahaan sebesar Rp533 miliar, atau naik 17,2 persen dari posisi Rp454,9 miliar," tulis keterangan resmi Surya Semesta Internusa yang dikutip Kamis, 2 April 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laba kotor perusahaan yang melesat tajam memberikan dampak positif bagi tingkat laba bersih perusahaan di sepanjang tahun lalu menjadi Rp92,3 miliar, atau naik 145 persen dari posisi Rp37,7 miliar di 2018. Margin laba bersih perusahaan naik ke 2,3 persen, dari porsi tahun sebelumnya sebesar satu persen.
 
Lalu pada tahun lalu, posisi kas perusahaan mencapai Rp1,52 triliun, meningkat 11,3 persen dari posisi kas 2018 sekitar Rp1,37 triliun. SSIA telah menarik pinjaman dari International Finance Corporation (IFC) sebesar USD50 juta dari total fasilitas kredit USD100 juta pada pertengahan September 2019.
 
"Pinjaman ini dilindungi oleh Cross Currency Interest Rate Swap. Oleh karena itu SSIA menerima Rp702,5 miliar dengan bunga tetap 10,06 persen untuk periode pinjaman hingga Juni 2026."
 
Perusahaan juga memiliki utang kena bunga untuk periode 2019 sebesar Rp1,85 triliun. Hal itu berdampak pada gearing ratio (jumlah pinjaman dibandingkan modal) berada d level 41,4 persen.
 
Adapun total aset perusahaan menjadi Rp8,09 triliun di 2019, atau melesat 9,3 persen dari porsi aset Rp7,4 triliun di 2018. "Dengan porsi liabilitas dan ekuitas masing-masing menjadi Rp3,61 triliun dan Rp3,96 triliun," tutup rilis tersebut.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif