NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani

Opsi Setop Perdagangan Saham Bisa Jadi 'Obat' untuk Rupiah

Ekonomi ihsg bei
Annisa ayu artanti • 23 Maret 2020 12:44
Jakarta: Opsi penghentian perdagangan di bursa saham dinilai dapat menjadi obat bagi pelemahan rupiah yang akhir-akhir ini sudah merosot dalam, melebihi krisis 1998. Mengutip Bloomberg, hari ini rupiah berada di level Rp16.550 per USD.
 
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan salah satu penyebab pelemahan rupiah terjadi karena kondisi pasar saham yang bergerak liar sehingga investor asing melakukan aksi jual besar-besaran.
 
Pada perdagangan akhir pekan lalu, tercatat investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp794.03 miliar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ketika pasar menjadi sangat liar, opsi terbaik adalah lockdown bursa saham," kata Bhima kepada Medcom.id, Senin, 23 Maret 2020.
 
Bhima juga menuturkan opsi lockdown yang dimaksud bukan seperti kebijakan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan selama 30 menit ketika penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mencapai lima persen. Melainkan pemberhentian perdagangan total.
 
"Bukan sekadar trading halt 30 menit, tapi perlu dilakukan lebih lama misalnya satu minggu ke depan," ucapnya.
 
Namun demikian, Bhima memahami kebijakan ini adalah wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
 
Ia hanya memandang penghentian perdagangan adalah opsi terbaik saat ini karena jika tidak diberlakukan perekonomian Indonesia akan semakin terpuruk, dengan nilai tukar rupiah yang terus ambles.
 
"Taruhannya ada di rupiah, jauh lebih penting dari bursa saham. Karena dampak bursa saham ke investor, sementara dampak rupiah langsung dirasakan masyarakat," ujarnya.
 
Ia juga menambahkan, intervensi Bank Indonesia yang selama ini dipercaya sebagai obat bagi rupiah sudah tidak bisa lagi diandalkan. Sebab beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan hanya berpengaruh sedikit bagi rupiah.
 
"BI ini sangat kecil pengaruhnya, karena terbatasnya cadangan devisa. Apalagi puncak krisis korona belum bisa dipastikan. Cadangan devisa kalau diguyur sekarang, amunisi buat 2021 nanti habis," imbuhnya.
 
"Memang trade off pasti terjadi, Ini keputusan yang pahit. Dalam situasi ini BEI butuh keberanian," pungkasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif