Gedung OJK. FOTO: OJK
Gedung OJK. FOTO: OJK

Restrukturisasi Nasabah Leasing Capai Rp44,62 Triliun

Ekonomi ojk Virus Korona
Husen Miftahudin • 16 Mei 2020 08:50
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan perusahaan pembiayaan atau leasing hingga 12 Mei 2020 telah merestrukturisasi debitur terdampak covid-19 sebanyak 1,48 juta nasabah. Nilainya mencapai Rp44,61 triliun.
 
"Lembaga keuangan juga berkomitmen dan sudah merestrukturisasi debitur terdampak. Nominal kontraknya 1.484.768 nasabah dengan nilai Rp44,61 trilun," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020.
 
Dari total 183 perusahaan pembiayaan yang terdaftar di OJK, sebanyak 180 di antaranya telah menerima permohonan restrukturisasi dan menyampaikan laporan kepada OJK terkait pelaksanaan program restrukturisasi kepada nasabah yang ekonominya terdampak covid-19.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun jumlah permohonan restrukturisasi kredit yang sudah masuk mencapai 2.210.448 kontrak. Sedangkan masih dalam proses persetujuan hingga saat ini sudah mencapai 658.222 kontrak.
 
Sementara untuk restrukturisasi perbankan berdasarkan data per 10 Mei 2020, terdapat 88 bank yang sudah melakukan restrukturisasi kepada 3,88 juta debitur. Nilainya mencapai Rp336,97 triliun.
 
Sedangkan dari jumlah tersebut, restrukturisasi terbesar diberikan kepada nasabah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mencapai 3,42 juta debitur dengan nilai sebesar Rp167,1 triliun.
 
Dalam paparannya, Wimboh menegaskan restrukturisasi tidak bersifat otomatis tapi harus diajukan oleh debitur dan memenuhi sejumlah syarat. Misalnya, plafon kredit/pembiayaan UMKM maksimal Rp10 miliar, debitur merupakan existing individual/perusahaan termasuk debitur kendaraan bermotor roda dua atau empat, terjadi peningkatan kualitas kredit/pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi.
 
Teknis eksekusi restrukturisasi diserahkan kepada bank/leasing dengan prinsip kehati-hatian, jangka waktu restrukturisasi paling maksimal satu tahun. Terakhir, restrukturisasi diberikan kepada debitur yang benar-benar terdampak dan memiliki kredit lancar sebelum pengumuman darurat covid-19 oleh pemerintah.
 
Wimboh mengakui pelaksanaan restrukturisasi mengalami banyak kendala karena adanya perbedaan persepsi masyarakat karena kurangnya pemahaman. Kendala lain yakni industri bank dan multifinance masih berpedoman pada Standard Operational Procedure (SOP) yang lama, sehingga cenderung memakan waktu.
 
"Maka kami sampaikan bahwa kredit yang bisa direstrukturisasi harus yang betul-betul, tidak macet sebelum covid-19. Kalau sudah macet tidak bisa (ikut program restrukturisasi)," tutup Wimboh.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif