Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto : OJK.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto : OJK.

OJK: Puncak Restrukturisasi Kredit Sudah Terlewati

Ekonomi OJK pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 29 Juni 2020 14:03
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan restrukturisasi kredit yang dilakukan industri perbankan dan perusahaan pembiayaan sudah mulai melandai. Sebagian besar restrukturisasi dilakukan pada April dan Mei 2020.
 
"Sebagian besar sudah dilakukan April dan Mei, sementara Juni melandai. Ini tanda bahwa peak (masa puncak restrukturisasi kredit) sudah dilakukan, jika ada tambahan tidak begitu banyak," ujar Wimboh dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin, 29 Juni 2020.
 
Namun demikian, OJK akan terus memonitor implementasi restrukturisasi kredit yang dilakukan perbankan dan perusahaan pembiayaan. Sebab kebijakan stimulus yang tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) 11/2020 ini berlaku hingga 31 Maret 2021.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika restrukturisasi membutuhkan perhatian khusus, akan kita coba yang berdasarkan rencana bisnis dia sampai Desember. Kita akan terus monitor ke seluruh bank," tuturnya.
 
Di sisi lain, Wimboh meminta agar industri perbankan mulai gencar menyalurkan kredit, baik kepada pelaku usaha yang direstrukturisasi maupun tidak. Menurutnya upaya ini merupakan bagian dalam mempercepat proses pemulihan kondisi perekonomian nasional.
 
"Dana yang ditempatkan di bank Himbara ini bentuk perhatian dan dorongan di perbankan untuk lebih agresif dalam mempercepat proses pemberian kredit untuk mendukung recovery (pemulihan) ekonomi," ungkap Wimboh.
 
Hingga 15 Juni 2020, OJK mencatat nilai restrukturisasi kredit yang sudah dilakukan industri perbankan mencapai sebanyak Rp655,8 triliun. Keringanan kredit ini diberikan kepada 6,27 juta nasabah yang terdampak pandemi virus korona (covid-19).
 
Dari jumlah tersebut outstanding usaha mikro kecil menengah (UMKM) mencapai Rp298,8 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 5,17 juta debitur. Sementara, sebanyak lebih dari 1,1 juta debitur lainnya merupakan debitur non-UMKM dengan total saldo pokok plafon pinjaman perjanjian kredit (baki debet) yang direstrukturisasi senilai Rp356,98 triliun.
 
Regulator juga mencatat restrukturisasi pinjaman yang telah dilakukan perusahaan pembiayaan. Per 16 Juni 2020, total outstanding kredit mencapai Rp121,92 triliun dari 3,4 juta nasabah perusahaan pembiayaan.
 
Jumlah kontrak yang telah disetujui mendapat restrukturisasi itu sekitar 82,73 persen dari total permohonan restrukturisasi yang masuk ke perusahaan pembiayaan mencapai 4,15 juta kontrak.
 
"Sebanyak 507.449 kontrak masih dalam proses persetujuan. Totalnya ada 183 perusahaan pembiayaan yang memberikan restrukturisasi itu," beber Wimboh.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif