Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: MI/ Ramdani

November 2020, Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Ekonomi OJK jasa keuangan Pemulihan Ekonomi Nasional
Husen Miftahudin • 26 November 2020 13:01
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi sektor jasa keuangan masih stabil dan terjaga di tengah upaya keras pemerintah dan lembaga jasa keuangan lainnya dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.
 
"Upaya OJK ini sejalan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo saat perayaan HUT OJK Minggu, 22 November lalu yang meminta OJK untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar, berbagi beban untuk membantu para pelaku Usaha Kecil Menengah maupun besar agar kembali produktif menggerakkan roda perekonomian," ungkap Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resminya, Kamis, 26 November 2020.
 
Hal senada diungkapkan Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin yang meminta OJK meningkatkan pengawasan terintegrasi agar sektor jasa keuangan termasuk yang berskala ultra mikro, mikro, dan kecil tetap tumbuh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan OJK mencatat bahwa profil risiko dan permodalan sektor jasa keuangan dalam kondisi yang terjaga. Hal ini terlihat dari Oktober 2020 di mana rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 3,15 persen (NPL net: 1,03 persen) dan rasio Non Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan sebesar 4,7 persen.
 
Terjaganya NPL dan NPF utamanya ditopang oleh kebijakan restrukturisasi kredit dan pembiayaan yang realisasinya hingga 26 Oktober 2020, restrukturisasi kredit mencapai Rp932,4 triliun untuk 7,53 juta debitur perbankan. Terdiri dari restrukturisasi kredit UMKM Rp369,8 triliun untuk 5,84 juta debitur dan non UMKM senilai Rp562,5 triliun untuk 1,69 juta debitur.
 
"Sementara realisasi restrukturisasi pembiayaan hingga 17 November 2020 mencapai Rp181,3 triliun untuk 4,87 juta kontrak," paparnya.
 
Di sisi lain, risiko nilai tukar perbankan dapat dijaga pada level yang rendah, terlihat dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) yang pada Agustus 2020 sebesar 2,31 persen, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20 persen.
 
Likuiditas dan permodalan perbankan juga berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per 18 November 2020 terpantau pada level 157,57 persen dan 33,77 persen, di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.
 
Sedangkan permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini relatif terjaga pada level yang memadai. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat sebesar 23,74 persen serta rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 539 persen dan 337 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen.
 
"Begitupun gearing ratio (perbandingan jumlah pinjaman dengan modal sendiri) perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 2,28 persen atau jauh di bawah maksimum 10 persen," pungkas Anto. 

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif