Ilustrasi. Foto: AFP/Adek Berry.
Ilustrasi. Foto: AFP/Adek Berry.

Jelang Pengumuman Ekonomi Kuartal I, Rupiah Masih Berpotensi Menguat

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi rupiah menguat Kurs Rupiah
Husen Miftahudin • 05 Mei 2021 07:08
Jakarta: Kurs rupiah pada perdagangan hari ini diprediksi masih berpotensi menguat menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun demikian, saat pembukaan perdagangan, mata uang Garuda ini akan berfluktuasi.
 
"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp14.410 per USD sampai Rp14.450 per USD," ucap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Rabu, 5 Mei 2021.
 
Ibrahim menilai bahwa perbaikan ekonomi dan penguatan rupiah dipengaruhi oleh upaya pemerintah yang terus memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro. Hal tersebut dilakukan guna menekan laju penyebaran covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan terus ditekannya wabah covid-19, ada harapan besar pandemi akan kembali menurun dan masyarakat bisa beraktivitas kembali secara normal dan ini perlu ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat guna menanggulanginya secara bersama-sama," tuturnya.
 
Mengutip hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 diprediksi negatif 0,6 persen (yoy). Meski masih mengalami kontraksi, namun ekonomi RI di tiga bulan pertama tahun ini lebih baik dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2020 yang minus 2,19 persen (yoy).
 
"PDB (Produk Domestik Bruto) di kuartal I-2021 mencapai negatif 0,6 persen (kisaran minus 0,8 persen sampai dengan minus 0,4 persen), dengan estimasi pertumbuhan untuk keseluruhan tahun 2021 berkisar antara 4,4 persen hingga 4,8 persen," ungkap Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.
 
Riefky menilai, prospek pemulihan akan menghadapi tantangan baik di jangka pendek, menengah, dan panjang. Terlepas dari pemulihan secara signifikan di sektor eksternal seperti surplus neraca perdagangan, tingkat konsumsi, dan investasi, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan masih akan terbatas seiring masih tingginya angka kasus covid-19.
 
Di lain hal, Ibrahim optimistis perekonomian Indonesia akan terus mengalami perbaikan. Bahkan ia percaya pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal kedua tahun ini bakal tumbuh menjulang.
 
"Ada secercah harapan bahwa ekonomi di kuartal kedua akan membaik dan Indonesia akan keluar dari resesi dengan PDB kemungkinan akan fantastis di atas tujuh persen (full year 2021)," tegasnya.
 
Ibrahim menjelaskan, tumbuh tingginya ekonomi Indonesia selama 2021 didukung dengan lonjakan masyarakat yang memenuhi berbagai pasar, mal, maupun yang tempat lainnya untuk berbelanja memenuhi kebutuhan hari raya Idulfitri.
 
"Kondisi tersebut membuat perputaran uang di kota besar, terutama DKI Jakarta, terus melonjak. Hal ini sesuai dengan target pemerintah," ungkap Ibrahim.
 
Menurutnya, konsumsi masyarakat akan didorong oleh aktivitas Lebaran yang berpotensi lebih baik dibanding tahun lalu. Peningkatan aktivitas ini tak lepas dari terkendalinya jumlah kasus dan telah berjalannya vaksinasi.
 
"Ini semua berkat kebijakan pemerintah yang melarang warganya eksodus ke daerah sebelum Lebaran akibat covid-19 yang sampai saat ini sedang mengganas terutama di India, Jepang, dan di Asia," jelas Ibrahim.
 
Selain itu, lanjut dia, penjualan kendaraan bermotor juga tercatat meningkat tajam pada Maret 2021. Kenaikan penjualan tersebut dipengaruhi oleh insentif pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang diberikan pemerintah pada awal Maret lalu.
 
"Penjualan mobil pada Maret 2021 tumbuh 10,5 persen dibanding Maret 2020 dan tumbuh 72,6 persen dibanding Februari 2021," pungkas Ibrahim.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif