Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

BI Pasang Target Kredit Tumbuh hingga 9% di 2021

Ekonomi Perbankan Bank Indonesia Kredit
Husen Miftahudin • 03 Desember 2020 14:21
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memasang target pertumbuhan kredit di 2021 berkisar antara 7-9 persen. Optimisme tersebut sejalan dengan upaya bank sentral dalam mendorong kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran untuk mengatasi credit crunch (keengganan perbankan menyalurkan kredit karena tidak ada permintaan).
 
"Pertumbuhan kredit pada 2021 dapat mencapai tujuh sampai sembilan persen. Penawaran kredit perbankan kondusif dengan suku bunga menurun, likuiditas melimpah, lending standard membaik, program restrukturisasi kredit juga telah diperpanjang oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia secara virtual, Kamis, 3 Desember 2020.
 
Perry yakin permintaan kredit di tahun depan akan meningkat sejalan dengan membaiknya penjualan dan kemampuan bayar korporasi, khususnya korporasi besar. Apalagi otoritas juga telah menggelontorkan stimulus fiskal dan moneter yang cukup besar demi menggenjot pemulihan ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perlu mempertemukan antara perbankan dan dunia usaha untuk mengatasi asymmetric information (perbedaan informasi) dan persepsi risiko dalam penyaluran kredit," paparnya.
 
Dia menyebutkan bahwa telah terdapat empat subsektor yang telah mengalami pertumbuhan dengan kredit meningkat dan plafon kredit yang masih tersedia. Di antaranya sektor industri makanan dan minuman, komunikasi, logam dasar, serta kulit dan alas kaki.
 
Ada pula enam subsektor yang membutuhkan insentif usaha dari pemerintah agar plafon kredit yang tersedia di perbankan dapat dimanfaatkan. Keenam subsektor tersebut ialah industri tembakau, tanaman hortikultura, kayu, kimia, barang galian bukan logam, dan barang dari logam.
 
Sementara itu, terdapat delapan subsektor yang memerlukan penjaminan dan subsidi bunga dari pemerintah untuk mengatasi persepsi risiko dalam penyaluran kredit. Di antaranya tanaman pangan, kehutanan, real estat, tanaman perkebunan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri mesin, pertambangan bijih logam, serta industri furnitur.
 
"Sinergi seperti ini akan semakin kuat apabila didukung dengan vaksinasi dan pemberian stimulus fiskal seperti insentif pajak dan kemudahan usaha dari pemerintah," pungkas Perry.
 
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif