Ilustrasi. Foto: AFP
Ilustrasi. Foto: AFP

Peluang Bitcoin di Tengah Kasus Evergrande dan Arah Kebijakan The Fed

Ekonomi Bitcoin investor The Fed Krisis Evergrande
Husen Miftahudin • 23 September 2021 10:58
Jakarta: Aset kripto Bitcoin sedang diterpa isu soal penurunan harga yang menyebabkan investor was-was dalam beberapa hari terakhir. Penurunan harga Bitcoin disebut akibat aksi jual lantaran adanya kekhawatiran efek penularan kasus utang Evergrande dan investor yang sedang fokus pada arah kebijakan The Fed.
 
CEO Indodax Oscar Darmawan mengungkapkan, penurunan harga Bitcoin merupakan hal yang wajar terjadi. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, ia meminta agar investor dan masyarakat tidak beranggapan negatif bahwa ini merupakan akhir dari tren aset kripto.
 
"Pada dasarnya, naik turunnya harga aset kripto didasari oleh hukum permintaan penawaran dan tren beritanya, apakah lagi positif ataupun negatif. Namun saya rasa penurunan ini masih dalam batas wajar mengingat Bitcoin masih berpotensi meningkat lagi," ungkap Oscar dalam siaran persnya, Kamis, 23 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Oscar lantas mengambil contoh saat harga Bitcoin sempat anjlok sampai menyentuh angka USD30 ribu pada beberapa bulan lalu. Namun beberapa bulan kemudian, Bitcoin justru bisa kembali menyentuh angka USD50 ribu.
 
"Tidak cuma Bitcoin sebenarnya, aset kripto lain semacam Ethereum pun sama. Masih ada potensi bullish lagi," tegasnya.
 
Menurut Oscar, hal ini sebenarnya bisa dimanfaatkan investor untuk membeli Bitcoin dengan 'harga diskon'. Karena pada dasarnya, investasi yang baik adalah membeli sesuatu di saat harga murah, dan menjualnya di saat harga mahal..
 
"Mumpung Bitcoin sedang 'murah', sebenarnya para investor bisa memanfaatkan momentum ini. Setelah membeli, lalu disimpan, dan dijual saat harga naik atau kembali menembus level tertingginya seperti beberapa bulan lalu saat Bitcoin sempat menembus all time high-nya di USD60 ribu. Momen beberapa hari terakhir ini juga bisa kita pergunakan untuk meningkatkan portofolio kitas," jelas dia.
 
Di sisi lain, Oscar menuturkan bahwa di tengah market kripto yang memerah, justru tidak menyurutkan niat beberapa pihak untuk membeli Bitcoin. Salah satunya El Salvador yang telah resmi menyatakan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di negaranya pada dua pekan sebelumnya.
 
Presiden El Salvador Nayib bahkan memberikan keterangan bahwa negaranya telah menambah persediaan Bitcoin sebanyak 150 koin, sehingga total kepemilikan Bitcoin El Salvador saat ini berjumlah sebanyak 700 Bitcoin.
 
Tidak hanya itu, perusahaan teknologi finansial asal Amerika Serikat, Paypal juga telah menyediakan fitur perdagangan Bitcoin, Ethereum, Litecoin, dan Bitcoin Cash untuk penggunanya di Inggris. Peluncuran ini menandakan wujud komitmen Paypal untuk terus berinovasi demi memenuhi kebutuhan pengguna.
 
Pengguna PayPal di Inggris Raya yang sudah terverifikasi dapat membeli, menyimpan, dan menjual kripto dengan minimal pembelian sebesar satu poundsterling, setara Rp19.600. Melalui akun Paypal, para pengguna dapat melihat harga secara real time.
 
Oscar bilang, bahwa ini adalah fenomena yang bagus untuk pertumbuhan aset kripto mengingat sudah bertambah perusahaan finansial yang mengizinkan perdagangan aset kripto. Ia menganggap inovasi-inovasi dari perusahaan finansial tentu akan ditiru oleh perusahaan finansial lainnya.
 
"Setelah bank kedua terbesar di Amerika Serikat yaitu JP Morgan dan Bank of America mengizinkan perdagangan Bitcoin beberapa bulan lalu, kali ini giliran raksasa fintech yaitu Paypal yang telah mengizinkan perdagangan kripto dan melakukan ekspansi ke luar negeri. Menurut saya, dengan adanya kabar ini tentu menandakan peningkatan pengaruh kripto di masyarakat, khususnya di Inggris Raya," urai Oscar.
 
Di sisi lain, sebutnya, momen smart contract Bitcoin bernama Taproot yang akan dirilis sekitar Oktober-November 2021 akan mengubah sejarah dimana Bitcoin akan menjadi smart contract untuk pertama kalinya. "Smart contract ini dibuat untuk menambah efisiensi sehingga bisa mengurangi tekanan biaya transaksi Bitcoin dari sisi penawaran. Tentu ini akan memudahkan orang-orang untuk lebih mengembangkan Bitcoin," papar Oscar.
 
Adapun pada September 2020, harga Bitcoin menyentuh USD11.900,39 per koin atau setara Rp173,75 juta. Sekarang, harga Bitcoin menyentuh di angka USD43.246,39 per koin atau setara Rp615,757 juta. "Ini membuktikan bahwa Bitcoin bukanlah investasi jangka pendek," tegasnya.
 
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif