Foto: AFP.
Foto: AFP.

Rupiah 'Gulung' Dolar AS

Ekonomi Kurs Rupiah
Angga Bratadharma • 30 Juli 2020 09:23

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis pagi terpantau melonjak ketimbang hari sebelumnya di posisi Rp14.542 per USD. Mata uang Paman Sam mampu digulungmata uang Garuda usai Federal Reserve Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan di tengah kebangkitan covid-19.
 
Mengutip Bloomberg, Kamis, 30 Juli 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp14.455 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.455 hingga Rp14.517 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.365 per USD.
 
Sementara itu, dolar Amerika Serikat jatuh ke level terendah dua tahun pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Pelemahan setelah Federal Reserve mengulangi janji untuk menggunakan berbagai alat guna mendukung ekonomi AS dan mempertahankan suku bunga mendekati nol selama itu diperlukan untuk pulih dari kejatuhan akibat wabah virus korona.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bank sentral AS mengutip kekhawatiran tentang aktivitas ekonomi dan lapangan kerja yang masih jauh di bawah level mereka pada awal tahun. Direktur Pelaksana BK Asset Management Kathy Lien mengatakan The Fed jelas sedikit lebih berhati-hati dan dovish. Pada dasarnya Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
 
"Dalam lingkungan di mana pasar membuang dolar, itu alasan lain untuk menurunkannya,"kata Lien.
 
Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, turun 0,44 persen menjadi 93,42 setelah mencapai serendah 93,17, yang terlemah sejak Juni 2018. Euro menguat 0,56 persen menjadi 1,1780 dolar, setelah sebelumnya mencapai 1,1805 dolar, tertinggi sejak September 2018.
 
Greenback telah jatuh karena harapan bahwa Fed akan melanjutkan kebijakan moneter ultra longgar untuk tahun-tahun mendatang dan spekulasi bahwa hal itu akan memungkinkan inflasi berjalan lebih tinggi dari yang sebelumnya ditunjukkan sebelum menaikkan suku bunga.
 
Ini terjadi ketika Amerika Serikat menghadapi peningkatan terus-menerus dalam kasus virus korona bahkan ketika bagian lain dunia, termasuk Eropa, tampak telah menahan wabah. "Prospek dolar tetap lemah mengingat tren yang berbeda dalam kasus-kasus virus korona antara Eropa dan AS," kata Kepala riset valuta asing dan komoditas di CommerzbankUlrich Leuchtmann.
 
Kematian di AS akibat virus korona telah melampaui 150 ribu pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Jumlah ini lebih tinggi daripada di negara mana pun dan hampir seperempat dari total dunia, menurut penghitungan Reuters.


 

(ABD)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif