Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)
Ilustrasi (MI/USMAN ISKANDAR)

Indeks Literasi Ekonomi Syariah RI Baru 16,3% di 2019

Ekonomi bank indonesia ekonomi syariah Literasi
Husen Miftahudin • 31 Maret 2020 13:01
Jakarta: Bank Indonesia (BI) merilis Indeks Literasi Ekonomi Syariah sebagai salah satu wujud komitmen bank sentral untuk terus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) di Indonesia.
 
Indeks Literasi Eksyar merupakan salah satu indikator yang menjadi cerminan tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap eksyar dan tingkat inklusi masyarakat terhadap layanan keuangan syariah, khususnya keuangan sosial syariah (ZISWAF).
 
Adapun Indeks Literasi Eksyar nasional pada 2019 baru mencapai 16,3 persen (well literate) dari skala 100 persen. Capaian tersebut mencerminkan adanya ruang bagi upaya peningkatan pemahaman masyarakat tentang eksyar di Tanah Air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Indeks Literasi Eksyar diperoleh melalui pelaksanaan survei literasi ekonomi syariah secara nasional pada 2019 di 13 provinsi yang dianggap mewakili lebih dari 80 persen populasi umat muslim di Indonesia dan melibatkan 3.312 responden. Survei mencakup aspek pengetahuan prinsip dasar ekonomi syariah, keuangan sosial syariah, dan produk/jasa halal," jelas siaran pers yang dikutip dari laman resmi Bank Indonesia di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2020.
 
Islamic Development Bank (IsDB) menyambut baik penerbitan Indeks Literasi Eksyar BI. Mereka menyebut indeks ini merupakan yang pertama di Indonesia dan telah dilakukan dengan baik serta ditunjang metodologi yang umum diterapkan dalam standardisasi riset global.
 
Sejalan dengan hal tersebut, adanya indeks literasi eksyar diyakini akan menambah referensi literasi eksyar di tingkat nasional dan saling melengkapi dengan indeks literasi syariah yang sudah ada sebelumnya, seperti indeks literasi keuangan syariah yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
 
Upaya mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah perlu dibangun secara komprehensif, baik dari sisi penawaran (supply) maupun permintaan (demand). Dari sisi supply, keberadaan pelaku eksyar dan lembaga keuangan komersial syariah seperti perbankan, pasar modal, dan takaful terus dikembangkan bersama otoritas terkait.
 
Sedangkan dari sisi Islamic Social Fund (ISF), Bank Indonesia dan stakeholders terkait juga telah melakukan berbagai pengembangan di sektor wakaf dan zakat. Di antaranya inisiatif Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dan berbagai terobosan lainnya dalam implementasi Waqf & Zakat Core Principles untuk memperkuat social safety nets in Islamic economy.
 
Perkembangan eksyar yang terdepan, keberadaan sektor produksi berbasis halal yang luas, serta pemahaman masyarakat yang baik diyakini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan aktivitas usaha syariah nasional, yang pada akhirnya mampu menjaga stabilitas dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.
 
Sebagai salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat, indeks literasi eksyar dinilai memegang peranan penting sekaligus menjadi salah satu indikator dalam melihat preferensi masyarakat terhadap produk-produk syariah yang ditawarkan di Indonesia.
 
"Ke depan, BI akan terus berkomitmen untuk mendorong peningkatan literasi eksyar nasional serta mengukur tingkat efektivitas program edukasi eksyar yang telah dilakukan oleh BI bersama otoritas terkait guna pengembangan eksyar di Indonesia," tutup siaran pers tersebut.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif