Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah - - Foto: Antara/ Aprillio Akbar
Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah - - Foto: Antara/ Aprillio Akbar

RAPBN 2021 Belum Mampu Angkat Rupiah

Ekonomi Kurs Rupiah Nota Keuangan RAPBN 2021 Pidato Presiden
Husen Miftahudin • 14 Agustus 2020 17:17
Jakarta: Presiden Joko Widodo secara resmi telah menyerahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) beserta Nota Keuangan 2021 kepada DPR. RAPBN 2021 tersebut diterima langsung oleh Ketua DPR Puan Maharani untuk dibahas lebih lanjut sebelum nantinya disahkan menjadi UU.
 
Sayangnya, hal tersebut belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah. Pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda tersebut justru tersungkur. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaib menjelaskan penyebabnya.
 
Alasan pertama, pasar lebih melihat langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kembali memperpanjang PSBB masa transisi untuk keempat kalinya hingga 27 Agustus 2020. Hal ini kembali diputuskan lantaran kasus infeksi baru masih terus bertambah dengan total akumulasi kasus positif di DKI Jakarta menjadi 27.863.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kasus yang masih terus melonjak baik skala nasional terutama di DKI Jakarta semakin membuat prospek ekonomi Tanah Air penuh ketidakpastian ke depannya," ucap Ibrahim dalam keterangannya kepadaMedcom.id, Jumat, 14 Agustus 2020.
 
Menurut Ibrahim perpanjangan PSBB masa transisi di DKI Jakarta mengakibatkan arus modal asing kembali keluar dari pasar dalam negeri. Hal ini sangat disayangkan mengingat Bank Indonesia (BI) sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menstabilkan mata uang rupiah.
 
"Mulai dari menurunkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar valas, obligasi dan SUN di perdagangan DNDF. Namun apa yang dilakukan Bank Indonesia belum membuahkan hasil karena hembusan angin yang kencang dari eksternal," paparnya.
 
Apalagi, sambung Ibrahim, pada kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi nasional sudah terkontraksi hingga minus 5,32 persen (yoy), sementara kuartal ketiga tersisa satu bulan. Peluang terhadap perekonomian dalam negeri masih tumbuh di zona negatif, sehingga ancaman RI masuk resesi semakin nyata.
 
Di sisi lain, ungkapnya, pemerintah sudah banyak menggelontorkan stimulus. Terutama di bidang kesehatan, bantuan sosial (bansos), bantuan langsung tunai (BLT), dan bantuan Rp600 ribu kepada tenaga kerja yang bergaji di bawah Rp5 juta.
 
"Kita perlu mengapresiasi Bank Indonesia dan pemerintah yang sudah sekuat tenaga untuk mempertahankan dan menstabilkan mata uang rupiah. Yang terpenting Bank Indonesia dan pemerintah sudah berikhtiar, selanjutnya pasar yang akan menentukan arah mata uang rupiah ke depan," ucap Ibrahim.
 
Adapun dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini nilai tukar rupiah mengalami pelemahan. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp14.795 per USD dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp14.775 per USD.
 
Mata uang Garuda tersebut melemah 20 poin atau setara 0,14 persen. Sedangkan rentang gerak harian rupiah berada di level Rp14.795 per USD sampai Rp14.869 per USD. "Dalam perdagangan Senin depan, nilai tukar rupiah kemungkinan masih akan melemah di level Rp14.750 per USD sampai Rp14.850 per USD," tutup Ibrahim.
 
(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif