BRI. Foto : MI/Angga.
BRI. Foto : MI/Angga.

BRI Optimistis Kredit Tumbuh 4-5% di 2020

Ekonomi bri pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 01 Juli 2020 13:45
Jakarta: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memandang optimistis kinerja kredit tumbuh positif di sepanjang tahun ini meski ada perlambatan ekonomi imbas pandemi covid-19. Bahkan kredit BRI di 2020 diprediksi bakal tumbuh sekitar empat hingga lima persen.
 
"Saya sampaikan bahwa kredit kita proyeksikan akan tetap tumbuh positif. Positifnya berapa? Masing-masing bank beda-beda. Saya mewakili BRI yang kami proyeksikan akan tumbuh sekitar empat sampai lima persen," kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam konferensi pers bersama di Gedung OJK, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2020.
 
Ketua Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) ini juga yakin penyaluran kredit secara industri di 2020 akan tetap tumbuh positif. Meskipun besarannya bakal lebih seret ketimbang capaian tahun lalu yang mampu tumbuh 6,08 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau tahun lalu industri perbankan bisa menumbuhkan kredit sekitar enam persen, dan tahun ini pun kredit masih tumbuh positif. Berapa persentasenya? Saya katakan, tahun ini pun kredit kita proyeksi akan tetap tumbuh positif," tegasnya.
 
Menurut Sunarso, tumbuh positifnya permintaan kredit utamanya ditopang dari segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan sektor seperti pertanian, peternakan, transportasi, pariwisata, perumahan, hingga konstruksi.
 
Mengalirnya permintaan kredit lantaran aktivitas sudah mulai dibuka kembali setelah sempat terhenti akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Aktivitas bisnis pun mulai kembali menggurita dengan tetap menegakkan protokol kesehatan yang ketat di tengah era kenormalan baru (new normal).
 
"Aktivitas-aktivitas ekonomi sudah mulai dibuka kembali, terutama makanan. Kita kan tetap makan, maka kemudian petani-petani, peternak semua harus tetap berproduksi. Tempat-tempat mereka berproduksi, mendistribusikan barang dan jasa yang dihasilkan itu adalah tempat-tempat loan demand (permintaan kredit), ke sana kita akan menyasar," ungkap Sunarso.
 
Namun demikian, Sunarso menekankan pengucuran pinjaman atau kredit akan tetap dilakukan dengan hati-hati. Hal ini untuk menjaga kualitas kredit agar kemudian rasio kredit bermasalah (non performing loan) tidak mengalami pembengkakan.
 
"Untuk menjaga kualitas, kita harus ukur demand-nya berapa, kita akan suplai berapa. Kalau lewat (melebihi), nanti akan berakibat pada tidak seimbangnya antara kuantitas yang kita berikan dengan kualitas kredit itu sendiri," pungkas Sunarso.
 

(SAW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif