Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI

Harga Undervalued, Waktunya Koleksi Saham Emiten Unggulan

Ekonomi ihsg bei pasar modal
Antara • 07 April 2020 09:03
Jakarta: Di tengah maraknya pandemi virus korona (covid-19) di Tanah Air, yang mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bergejolak, saham emiten unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 dinilai tetap menarik dan 'seksi' di mata investor.
 
"Harga sejumlah saham saat ini sudah terbilang murah (undervalued), sehingga merupakan kesempatan untuk masuk pasar dan mengoleksi saham-saham LQ45," kata Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 7 April 2020.
 
Jika penanganan pandemi covid-19 bisa lebih cepat selesai maka perlahan-lahan kepercayaan investor mulai pulih dan pasar lebih bergairah. Saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi yakni PT Indofarma Tbk (INAF), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Unilever Indonesia TBK (UNVR), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diyakini, saham-saham emiten berkapitalisasi pasar besar ini akan cepat berbalik arah di kala indeks membaik. Apalagi, emiten-emiten tersebut memiliki fundamental yang bagus dan telah terbukti mampu bertahan di saat ekonomi mengalami kontraksi.
 
Hal ini terbukti pada saat IHSG menguat 188,40 poin atau naik 4,07 persen ke level 4.811,83 pada akhir perdagangan Senin, 6 April, saham ASII merupakan salah satu yang paling aktif diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp282,2 miliar.
 
Saham lain yang juga diincar investor yakni PT Bank Rakyat Indonesia TBk (BBRI) dengan nilai transaksi Rp845,25 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai transaksi Rp375,77 miliar.
 
Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia Samsul Hidayat mengatakan prospek pasar modal masih tetap menjanjikan, apalagi terhadap emiten dengan kapitalisasi pasar besar yang mempunyai banyak bidang usaha.
 
Mantan Direktur Penilaian Perusahaan BEI ini mengatakan emiten yang memiliki ragam usaha biasanya lebih mampu bertahan dan berkelanjutan karena jenis investasinya berbeda-beda, sehingga bisa saling menutupi jika terjadi penurunan. Di sisi lain, laporan kinerja di 2019 yang sudah mulai dipublikasikan akan menjadi pijakan investor dalam menentukan keputusannya.
 
Berdasarkan laporan kinerja 2019, PT Astra International Tbk (ASII) tercatat meraih laba bersih Rp21,71 triliun atau naik tipis 0,18 persen dari Rp21,67 triliun pada tahun sebelumnya, dengan laba bersih saham (EPS) stabil di Rp536 per lembar.
 
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil grup Astra pada Februari 2020 mencapai 43.065 unit, meningkat 5,76 persen dari Januari 2020. Kendati penjualan otomotif tahun ini diprediksi akan turun 30 persen akibat pandemi virus korona, tetapi saham ASII tetap menarik untuk dikoleksi.
 
Emiten multinasional dengan kapitalisasi pasar Rp153,84 triliun ini memiliki beragam lini bisnis di antaranya otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.
 
Selain saham ASII, sejumlah perusahaan grup Astra yang juga mencatatkan sahamnya di bursa efek Indonesia yakni PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang bergerak di sektor perkebunan, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) yang bergerak di kontruksi bangunan, PT Astra Graphia Tbk (ASGR) yang bergerak di jasa komputer & perangkat komputer lainnya.
 
Selanjutnya, PT Astra Autopart Tbk (AUTO) yang bergerak di sektor Otomotif & Komponen, PT United Tractors Tbk (UNTR) di sektor Perdagangan Besar Barang Produksi, serta PT Bank Permata Tbk (BNLI) di sektor perbankan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif