Ilustrasi Pegadaian - - Foto: Antara/ M Adimaja
Ilustrasi Pegadaian - - Foto: Antara/ M Adimaja

Laba Bersih Pegadaian Stagnan Rp1,5 Triliun

Ekonomi Pegadaian laporan keuangan
Husen Miftahudin • 29 Juli 2020 16:17
Jakarta: PT Pegadaian (Persero) mencetak laba bersih sebesar Rp1,5 triliun pada semester I-2020. Perolehan laba ini cenderung stagnan bila dibandingkan dengan raihan di periode yang sama tahun sebelumnya imbas pandemi covid-19.
 
Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto mengakui laba bersih perseroan pada semester I-2020 tertahan pandemi covid-19. Sebab kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengimplementasikan program relaksasi hingga pemotongan bunga pinjaman.
 
"Kondisi pandemi ini kita terpaksa melakukan relaksasi, kemudahan, pemotongan bunga, dan lain-lain. Maka laba kita relatively sama dengan tahun kemarin per Juni Rp1,5 triliun, per Juni 2020 ini tetap di Rp1,5 triliun," ujar Kuswiyoto dalam telekonferensi Paparan Kinerja Pegadaian Semester I-2020, Rabu, 29 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, raihan laba itu terdorong oleh kenaikan jumlah nasabah yang pada Juni 2020 mencapai sebanyak 15,04 juta nasabah. Angka itu meningkat 8,5 persen dibandingkan posisi akhir 2019 yang hanya sebesar 13,86 juta nasabah.
 
Di sisi lain, aset Pegadaian per Juni 2020 juga mengalami kenaikan sebesar 22 persen (yoy), dari Rp56,1 triliun menjadi Rp68,4 triliun. Seiring dengan itu, liabilitas perusahaan tumbuh 23,5 persen (yoy) dari Rp35,8 triliun menjadi Rp44,2 triliun.
 
Kemudian ekuitasnya tumbuh 19,5 persen (yoy), dari Rp20,3 triliun menjadi Rp24,2 triliun. Termasuk omzet perusahaan yang juga mengalami kenaikan sebanyak 18,8 persen dari Rp67,7 triliun menjadi Rp80,4 triliun.
 
"Ini yang menarik saya sampaikan adalah omzet kita yang pada tahun kemarin per Juni itu Rp67,7 triliun. Untuk tahun ini per Juni 2020 ini sudah Rp80,4 triliun, jadi naiknya adalah 18,8 persen. Ini adalah salah satu sumbangan kita untuk perekonomian nasional," ucapnya.
 
Kuswiyoto juga melaporkan adanya rasio keuangan yang tertekan. Seperti return on asset (ROA) turun dari 5,47 persen jadi 4,47 persen (yoy). Sementarareturn on equity(ROE) juga mengalami penurunan dari 13,48 persen menjadi 12,64 persen per Juni 2020.
 
Di sisi lain, rasio utang ataudebt to equity ratio(DER) meningkat dari 1,77 kali menjadi 1,83 kali. Begitu juga beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang naik dari 73,94 persen menjadi 80,46 persen.
 
Sedangkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) Pegadaian pada Juni 2020 mengalami peningkatan dari 2,32 persen di Juni 2019 menjadi 2,37 persen di Juni 2020. Meskipun demikian ia mengklaim rasio NPL ini masih jauh lebih rendah dari rata-rata industri keuangan lainnya.

 
"NPL naik tapi Alhamdulillah kita berhasil mencadangkan kerugian yang cukup sehingga nanti kalau terjadi apa-apa, Pegadaian sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi yang terburuk yang terjadi di perekonomian kita," pungkas Kuswiyoto.
 

(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif