Bank Indonesia. Foto : MI.
Bank Indonesia. Foto : MI.

BI: Bisnis Money Changer Masih Lesu, Transaksinya Turun 7,16%

Ekonomi Bank Indonesia money changer
Husen Miftahudin • 23 September 2021 18:42
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengakui bisnis Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) Bukan Bank atau money changer masih lesu hingga saat ini. Bahkan, transaksi jual beli valuta asing (valas) melalui money changer secara nasional hingga Juni 2021 ambles sebanyak 7,16 persen.

"Memang pandemi ini semua usaha terdampak, termasuk juga usaha KUPVA BB ini," ucap Deputi Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Suharman Tabrani dalam konferensi pers, Kamis, 23 September 2021.
 
Suharman menjelaskan, dari awal tahun hingga Juni 2021 transaksi jual beli valas melalui money changer secara nasional tercatat sebesar Rp19,26 triliun. Angka tersebut turun 7,16 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sebanyak Rp20,75 triliun.
 
Namun demikian, angka penurunan ini lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. Sepanjang 2020, transaksi jual beli valas melalui money changer secara nasional tercatat sebesar Rp271 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pada 2019, transaksinya itu mencapai Rp396,72 triliun. Jadi kalau 2020 dibandingkan 2019 memang sangat drop sekali sekitar 31,6 persen penurunannya," ungkapnya.
 
Suharman bilang, pandemi covid-19 berdampak besar pada bisnis money changer di Indonesia. Pasalnya, kegiatan usaha seperti ekspor impor, remitansi, hingga pariwisata juga menurun drastis selama pandemi ini.
 
"Bayangkan saja kalau misalnya dulu kita dari usaha. Katakanlah kita membutuhkan valas untuk kegiatan usaha, usaha kita menurun, kebutuhan kita terhadap valas juga terdampak. Itulah kaitannya dan kelihatan dari angka ini," urai dia.
 
Jadi, lanjutnya, pandemi covid-19 ini tidak hanya berdampak pada usaha-usaha seperti Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), perhotelan, ataupun kuliner. Namun juga berimbas besar pada kegiatan dan transaksi jual beli valas melalui money changer.
 
"Ini memang lagi-lagi mengkonfirmasi bahwa pandemi ini tidak hanya berdampak pada usaha seperti UMKM, perhotelan, usaha2 kuliner. Ternyata terhadap bisnis-bisnis keuangan bukan bank seperti KUPVA BB juga terdampak pandemi," pungkas Suharman.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif