Laba emiten diperkirakan pulih di semester II. Foto: Antara/Aprilio Akbar
Laba emiten diperkirakan pulih di semester II. Foto: Antara/Aprilio Akbar

Aprindo Optimistis Laba Emiten Ritel Pulih di Semester II

Ekonomi emiten
Ilham wibowo • 05 Agustus 2020 12:08
Jakarta: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meyakini implementasi program pemulihan ekonomi dampak positifnya akan dirasakan pada semester II-2020. Daya konsumsi masyarakat yang didorong naik akan turut mendongkrak laba industri ritel.
 
Ketua Aprindo Roy Mandey mengatakan bahwa koreksi pada laba emiten ritel akibat pandemi covid-19 terjadi pada periode April-Mei 2020. Pada semester I-2020 kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sempat sangat ketat diterapkan dan membuat aktivitas masyarakat maupun perdagangan turut terganggu.
 
"Memang kondisinya (koreksi laba) pada semester I itu terjadi karena pandemi, terutama kuartal II atau April-Mei 2020," kata Roy kepada Medcom.id, Rabu, 5 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keyakinan Roy terhadap pemulihan industri ritel pada semester II ditunjukkan dari hasil survei terbaru Bank Indonesia (BI). Indikator seperti indeks ekspektasi penjualan, indeks kepercayaan konsumen, dan indeks harga konsumen diproyeksikan berada pada angka di atas 100.
 
"Artinya ada harapan masyarakat itu dapat meningkatkan konsumsi kembali," ujarnya.
 
Meski telah menurunkan target kinerja sepanjang periode 2020, lanjut Roy, Aprindo masih punya ruang gerak agar setidaknya tetap mendapatkan pertumbuhan positif. Dukungan pemerintah dalam merealisasikan stimulus fiskal dan subsidi harus diteruskan.
 
"Stimulus pemulihan ekonomi makin tercermin walaupun konkretnya masih berproses. Kedua, adanya harapan vaksin yang sekarang sedang uji klinis untuk secepatnya dapat direalisasikan pada akhir semester II, sehingga dapat meningkatkan semangat di masyarakat bahwa ini badai pasti berlalu," tuturnya.
 
Sebelumnya, kinerja emiten ritel periode semester I-2020 merosot dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Tercatat PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) merugi pada Rp357,87 miliar pada semester I-2020. Padahal pada periode yang sama tahun lalu mampu mencatat laba Rp1,16 triliun.
 
CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari Terry O'Connor mengatakan pandemi covid-19 telah secara signifikan berdampak pada operasi Matahari pada kuartal kedua.
 
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), penjualan kotor pada semester pertama 2020 sebesar Rp3,93 triliun, atau lebih rendah 62,7 persen dibandingkan dengan semester I-2019.
 
Kemudian, pendapatan bersih juga turun 62,1 persen menjadi Rp2,25 triliun dari sebelumnya Rp5,95 triliun. Adapun penurunan terbesar berasal dari pos penjualan eceran dari Rp3,81 triliun menjadi Rp1,44 triliun. Sementara penjualan konsinyasi turun dari Rp2,08 triliun menjadi Rp760,07 miliar.
 
"Di masa lalu, kami telah menutup gerai-gerai dengan kinerja kurang baik, dengan mempertimbangkan akhir masa sewa atau peluang real estate yang menarik. Namun, mengingat terjadinya pandemi covid-19 serta upaya kami untuk merestrukturisasi bisnis, kami memutuskan untuk mempercepat penutupan gerai yang berkinerja kurang baik," kata Terry dalam keterangan tertulisnya, Senin, 3 Agustus 2020.
 
Sampai saat ini, Matahari telah menutup enam gerai format besar pada 2020. Pada saat yang sama Matahari membuka satu gerai baru di Palembang pada Mei 2020 dan dua gerai baru di kota Depok dan Tangerang pada Juli 2020.
 
Sementara itu, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga mencatat rugi yakni Rp53,6 miliar. Berdasarkan laporan keuangan RALS, rugi disebabkan karena pendapatan di semester I-2020 ini turun drastis yakni menjadi Rp1,47 triliun. Pendapatan RALS pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat sebesar Rp3,48 triliun.
 
Adapun pendapatan terbesar berasal dari pendapatan penjualan barang beli putus yaitu sebesar Rp1,23 triliun. Angka ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp2,86 triliun.
 
Selain itu, penurunan pendapatan juga terjadi pada komisi penjualan konsinyasi menjadi Rp247,6 miliar dari capaian sebelumnya yang sebesar Rp627,1 miliar.
 
(DEV)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif