Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - - Foto: MI
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - - Foto: MI

BI: Permintaan Rendah, Inflasi Terkendali

Ekonomi inflasi bank indonesia
Husen Miftahudin • 02 April 2020 17:28
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi tingkat inflasi akan semakin rendah dan terkendali. Ini imbas rendahnya permintaan masyarakat akibat wabah pandemi virus korona (covid-19) di Indonesia.
 
"Inflasi itu Insyallah akan tetap rendah karena permintaan masyarakat kan rendah dan itu tentu saja berdampak terhadap inflasi. Inflasi intinya juga rendah, karena kesenjangan output atau output gap-nya itu rendah," ujar Perry dalam telekonferensi dari kantor pusat BI di Jakarta, Kamis, 2 April 2020.
 
Lebih lanjut bank sentral memandang ekspektasi inflasi terjangkar lantaran pasokan barang-barang terjaga. Di samping itu, dampak nilai tukar rupiah terhadap inflasi juga rendah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam kondisi normal saja pengaruh rupiah terhadap inflasi itu rendah, apalagi dalam kondisi seperti ini. Dalam kondisi ini tentu saja korporasi, dunia usaha, tidak akan mem-pass through rupiahnya terhadap inflasi karena permintaannya rendah," ucap Perry.
 
Faktor lainnya, tambah dia, karena pemerintah telah memastikan tersedianya pasokan terhadap kebutuhan bahan-bahan makanan. Oleh karena itu ia meminta masyarakat tak perlu panik dan secara berlebihan membeli barang-barang kebutuhan pokok.
 
"Oleh karena itu masyarakat tidak usah panik, tidak usah nubruk-nubruk untuk belanja. Tenang saja," harap Perry.
 
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi pada Maret 2020 sebesar 0,10 persen secara month to month (mtm). Sementara inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) sebesar 0,76 persen dan inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 2,96 persen.
 
Besaran indeks harga konsumen (IHK) tersebut didorong oleh inflasi inti yang utamanya disebabkan oleh kenaikan emas perhiasan. Kelompok pengeluaran yang memberikan sumbangan paling besar yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 0,99 persen dengan andil terhadap inflasi Maret sebesar 0,06 persen.
 
Komoditas paling dominan dalam kelompok ini yaitu kenaikan harga emas perhiasan yang andilnya 0,05 persen. Kemudian kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,10 persen dengan andil terhadap inflasi Maret sebesar 0,03 persen.
 
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil yakni kenaikan harga telur ayam ras dengan andil 0,03 persen, kenaikan harga bawang bombai andilnya 0,03 persen, kenaikan harga gula pasir 0,02 persen, serta kenaikan rokok kretek filter dan rokok kretek putih yang andilnya 0,01 persen.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif