Matahari department store. Foto: Dok. Matahari
Matahari department store. Foto: Dok. Matahari

2020, Matahari Department Store Rugi Rp900 Miliar

Ekonomi matahari department store keterbukaan informasi publik
Annisa ayu artanti • 18 Februari 2021 10:12
Jakarta: PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatat rugi bersih untuk periode 2020 sebesar Rp900 miliar. Angka itu terbalik dengan capaian di periode 2019 yang mampu mencetak laba Rp1,4 triliun.
 
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 18 Februari 2021, anjloknya laba tersebut seiring dengan penurunan pendapatan bersih yang mencapai 52,9 persen menjadi Rp4,8 triliun. Namun, sepanjang 2020, perseroan mencatat beban operasional turun 27,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp1,1 triliun.
 
Manajemen menjelaskan, penurunan kinerja perusahaan di 2020 tidak terlepas dari dampak pandemi covid-19 yang tidak diantisipasi sebelumnya bagi bisnis di seluruh dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sepanjang 2020, perseroan beroperasi di lingkungan dengan tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi," ujar Chief Financial Officer Matahari Niraj Jain.
 
Dalam kondisi tersebut, Matahari Department Store mengambil sejumlah langkah yaitu meluncurkan inisiatif digital seperti situs jaringan baru Matahari.com beserta aplikasi berbasis Android dan IOS dan memperkenalkan saluran penjualan baru yakni Social Commerce Shop and Talk (WhatsApp), dan di marketplace (Shopee & JD.ID).
 
Matahari Department Store juga membuka tiga gerai format besar baru dan menutup 13 gerai format besar yang tidak menguntungkan. Lalu, mengurangi seluruh beban operasional dan bernegosiasi dengan pemilik mal untuk pengurangan biaya sewa.
 
Kemudian, mengonsolidasikan seluruh aktivitas Support Centre dalam satu lokasi serta mendapatkan fasilitas bank tambahan senilai Rp500 miliar, di atas fasilitas sebelumnya senilai Rp1,7 triliun selama kuartal II-2020
 
"Dengan seluruh langkah tersebut, Perseroan mengakhiri 2020 dengan rugi bersih Rp900 miliar," ujarnya.
 
Untuk kinerja di tahun selanjutnya, Niraj mengungkapkan, perseroan tidak yakin penjualan akan kembali ke normal sebelum 2022.
 
"Fokus kami saat ini adalah menjaga pelanggan dan karyawan kami tetap aman, sementara bersiap untuk pemulihan yang dapat datang kapan pun," pungkasnya.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif