Ilustrasi uang hasil pembebasan lahan milik warga Tuban - - Foto: Antara/ Pky Lukmansyah
Ilustrasi uang hasil pembebasan lahan milik warga Tuban - - Foto: Antara/ Pky Lukmansyah

Dapat 'Uang Kaget' seperti Warga Tuban, Begini Cara Mengaturnya

Ekonomi kilang minyak pertamina pembebasan lahan tips keuangan kilang tuban
Eko Nordiansyah • 20 Februari 2021 19:37
Jakarta: Media sosial baru saja digegerkan oleh video viral sejumlah warga kampung Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur yang kaya mendadak dan membeli mobil secara berjamaah.
 
Fenomena ini bermula ketika warga mendapatkan uang pembebasan lahan untuk kilang minyak proyek Pertamina Grass Root Refinery (GRR) atau kilang tuban. Sebanyak 225 warga desa menerima pembayaran Rp600 ribu sampai Rp800 ribu per meter, dengan yang tertinggi bisa mendapat Rp26 miliar.
 
Menurut perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho, seharusnya uang yang didapat oleh warga desa Sumurgeneng ini bisa dikelola dengan baik. Setidaknya ada tiga tips dalam menggunakan 'uang kaget' tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Walaupun mereka saat ini mendapatkan rejeki nomplok, akan lebih bijak kalau mereka mencari alternatif penghasilan, karena penghasilannya sudah hilang karena lahannya dibeli," katanya kepada Medcom.id, Sabtu, 20 Februari 2021.
 
Andy beranggapan mayoritas lahan yang dibeli oleh Pertamina merupakan lahan pertanian warga sebagai sumber mata pencaharian. Artinya ketika lahan ini dijual, warga harus mencari mata pencaharian lain atau menggunakan uangnya untuk membeli lahan baru.
 
Selain itu, sebagian dari uang yang ada bisa digunakan untuk menabung atau berinvestasi. Apalagi warga yang selama ini tidak memiliki tabungan, bisa menyisihkan duit tersebut untuk kebutuhan di masa mendatang.
 
"Pertama, untuk ditabung. Kemudian sepertiga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk makan, bayar listrik, bayar sekolah anak. Sepertiga lagi itu yang bisa digunakan untuk modal usaha atau apapun karena kembali lagi mereka harus membuat mata pencaharian baru," jelas dia.
 
Ia menambahkan tak masalah jika warga desa Sumurgeneng ingin membeli mobil asalkan uang yang didapat masih mencukupi untuk tiga keperluan tersebut.
 
"Seandainya dari seluruh uang sudah habis buat beli mobil, bagaimana caranya mobil ini bisa menghasilkan uang buat mereka. Misalnya bisa saja untuk taksi online, atau antar jemput, atau disewakan. Apapun yang penting mobil ini bisa menjadi mata pencaharian yang baru," pungkasnya.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif