NEWSTICKER
Ilustrasi OJK - - Foto: dok MI
Ilustrasi OJK - - Foto: dok MI

Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Wabah Covid-19

Ekonomi ojk Virus Korona
Husen Miftahudin • 27 Maret 2020 11:55
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan hingga Maret dalam kondisi terjaga. Hal ini tercermin dari intermediasi sektor jasa keuangan yang membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan yang tetap terkendali meski perekonomian tertekan akibat virus korona.
 
Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan sejak Februari lalu, OJK juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus perekonomian di sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non bank. Kebijakan itu diharapkan menjadi countercyclical dampak penyebaran virus korona sehingga bisa mendorong optimalisasi kinerja industri jasa keuangan khususnya fungsi intermediasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
 
"OJK senantiasa memantau perkembangan ekonomi global yang sangat dinamis dan berupaya untuk terus memitigasi potensi risiko yang ada terhadap kinerja sektor jasa keuangan domestik," katanya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat, 27 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anto menjelaskan kondisi perekonomian global diperkirakan akan terkontraksi cukup dalam pada semester I-2020 dan mulai kembali pulih pada semester II-2020 seiring dengan wabah virus korona yang terus meningkat, khususnya di luar Tiongkok. Namun demikian, pulihnya perekonomian dunia akan sangat bergantung pada berakhirnya wabah covid-19 di tataran global.

 
Perekonomian Amerika Serikat (AS) dan Eropa diprediksi akan terkontraksi pada kuartal II-2020 mengingat penyebaran virus korona di AS dan Eropa baru akan mencapai puncaknya pada April dan Mei 2020. Sementara itu, perekonomian Tiongkok diprediksi telah membaik pada kuartal II-2020 sejalan dengan mulai melambatnya penyebaran virus korona di Negeri Tirai Bambu tersebut.
 
"Besarnya sentimen negatif terkait penyebaran virus korona baik secara global maupun perkembangan di Indonesia memengaruhi kinerja sektor jasa keuangan domestik, khususnya di pasar keuangan, baik pasar saham maupun SBN (Surat Berharga Negara)," paparnya.
 
Sejak awal Maret 2020 sampai dengan 24 Maret 2020, investor nonresiden tercatat keluar dari pasar saham dan SBN, masing-masing sebesar Rp6,11 triliun dan Rp98,28 triliun. Dengan kondisi tersebut, pasar saham melemah signifikan sebesar 27,79 persen secara month to date (mtd) atau 37,49 persen year to date (ytd) menjadi 3.937,6.
 
"Diikuti dengan pelemahan di pasar SBN dengan yield yang rata-rata naik sebesar 118,8 bps mtd atau 95 bps ytd. Pelemahan ini disebabkan pada kekhawatiran investor terhadap virus korona yang akan berdampak pada kinerja emiten di Indonesia," ungkap Anto.
 
Sementara itu, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan Februari 2020 bergerak sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik. Kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,93 persen yoy, ditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 10,29 persen yoy. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan meningkat 2,82 persen yoy.
 
"Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,79 persen (NPL net: 1,00 persen) dan Rasio NPF sebesar 2,66 persen."
 
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,80 persen yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit. Selain itu, sepanjang Februari 2020, industri asuransi berhasil menghimpun premi sebesar Rp46,5 triliun dan tumbuh sebesar 4,73 persen yoy.
 
Sampai dengan 24 Maret 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp21,55 triliun. Adapun jumlah emiten baru pada tahun ini telah terdapat 13 perusahaan, dengan pipeline penawaran sebanyak 61 emiten dengan total indikasi penawaran sebesar Rp28,8 triliun.
 
Risiko nilai tukar perbankan berada pada level yang rendah pada Februari 2020, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,35 persen atau jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20 persen.
 
Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 212,30 persen dan 108,12 persen atau jauh di atas threshold masing-masing sebesar 100 persen dan 50 persen.
 
"Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan sebesar 22,42 persen. Sejalan dengan itu, Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 670 persen dan 312 persen atau jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120 persen," tutup Anto.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif