Ilustrasi lantai bursa di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Ilustrasi lantai bursa di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

IPO Unicorn Berpotensi Naikkan Kapitalisasi Pasar Modal Indonesia

Ekonomi BEI Pasar Modal ipo startup Unicorn
Ade Hapsari Lestarini • 29 Juli 2021 13:22
Jakarta: Pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) yang dilakukan perusahaan-perusahaan rintisan (startup) menjadi fenomena tersendiri bagi penikmat saham. Peluang ini dinilai bermanfaat bagi pendalaman pasar modal Indonesia.
 
Bursa Efek Indonesia (BEI) pun terus melakukan persiapan guna mengakomodasi startup dengan valuasi lebih dari USD1 miliar alias unicorn untuk segera melakukan IPO di bursa. Salah satu potensi manfaat yang akan didapatkan jika unicorn melantai di bursa adalah peningkatan kapitalisasi pasar (market cap) pasar modal Indonesia.
 
"Potensi peningkatan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp553,9 triliun atau sebesar 7,69 persen dengan tercatatnya enam perusahaan unicorn di Indonesia," ujar Kepala Divisi Pengembangan Startup dan SME BEI, Aditya Nugraha, dikutip Kamis, 29 Juli 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aditya menuturkan, keberhasilan unicorn IPO di pasar modal Indonesia akan meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia dan meningkatkan hasrat calon unicorn lainnya untuk IPO dan tercatat di BEI.
 
"Terdapat sekitar 37 perusahaan yang berkategori centaur (startup dengan valuasi USD100 juta-USD1 miliar) juga berpotensi ke depan untuk IPO dengan nilai fundraised dan nilai kapitalisasi pasar yang besar," ungkapnya.
 
Baca: 14 Perusahaan Beraset Besar Antre Melantai di Bursa
 
Selain itu, Aditya menerangkan jumlah pengguna yang besar dari masing-masing perusahaan teknologi di Indonesia memunculkan potensi pertumbuhan investor di pasar modal Indonesia melalui konversi pengguna menjadi investor perusahaan tersebut.
 
"Jadi, number of new investor, potensinya sangat besar. Ini menjadi salah satu aspek yang kita harapkan akan meningkat ketika unicorn IPO atau listing di BEI," ucapnya.
 
Selanjutnya, adanya capital inflow, yaitu penambahan perusahaan tercatat dari industri teknologi meningkatkan potensi Indonesia sebagai satu tujuan investasi bagi investor global. "Komposisi dari sektor teknologi di portofolio investor diperkirakan akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang," imbuhnya.
 
Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Saptono Adi Junarso, mengungkapkan sejak 2019, pihak BEI bersama OJK terus menggagas peraturan mengenai multiple voting shares (MVS) atau Saham Hak Suara Multiple (SHSM) untuk mengakomodir unicorn IPO di bursa.
 
Baca: Kapitalisasi Pasar GoTo Disebut Lebih Unggul dari Bukalapak
 
"Saat ini sudah pada tahapan RPOJK, semoga bisa keluar secepatnya. Pembahasan sudah final di OJK, dan semoga bisa digunakan untuk mengakomodir unicorn-unicorn lain untuk IPO di BEI," ujarnya.
 
Di samping itu, sebagai bentuk perlindungan investor, Saptono mengatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan memberikan notasi khusus kepada perusahaan tercatat yang memiliki SHSM dalam struktur permodalannya di tahap pertama.
 
"Menurut kami, investor harus aware, bahwa perusahaan-perusahaan ini adalah perusahaan yang akan menerapkan model bisnis berbeda. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan ini ada yang menggunakan SHSM, maka kami sedang menyiapkan notasi khusus yang akan disematkan selama perusahaan ini masih menerapkan SHSM," pungkasnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif