IHSG pekan depan diprediksi melemah. Foto: Medcom.id
IHSG pekan depan diprediksi melemah. Foto: Medcom.id

Pekan Depan IHSG Berpotensi Melemah, Ini Indikatornya

Ekonomi IHSG pandemi covid-19
Despian Nurhidayat • 22 November 2020 18:14
Jakarta: Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprakirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan akan konsolidasi melemah. Hal itu karena meningkatnya kasus covid-19 di beberapa negara dunia, disertai mulai turunnya optimisme terkait vaksin covid-19.
 
"Ditambah masalah stimulus dan pasar keuangan yang naik banyak beberapa pekan terakhir sehingga membuka koreksi sehat IHSG. Support IHSG di level 5,541 sampai 5,462 dan resistance di level 5.628 sampai 5.657," ungkapnya, dikutip dari Mediaindonesia.com, Minggu, 22 November 2020.
 
Adapun pada penutupan perdagangan Jumat pekan ini, IHSG turun ke zona merah, melemah 0,40 persen atau 22,40 poin ke level 5.571,66.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hans menuturkan beberapa sentimen dari dalam dan luar negeri yang mungkin memengaruhi pergerakan IHSG pada pekan depan di antaranya ialah terjadi lonjakan kasus covid-19 di beberapa negara. Di Amerika Serikat (AS), pekan ini, terjadi kenaikan rata-rata mingguan 26 persen kasus dibandingkan pekan sebelumnya.
 
Di tengah peningkatan kasus covid-19, terjadi juga pembatasan aktivitas sosial untuk menurunkan tingkat penyebaran. Wali Kota New York City Bill de Blasio bahkan memerintahkan sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka. Centers for Disease Control and Prevention juga menyarankan warga AS agar tidak berpergian untuk merayakan Thanksgiving.
 
"Hal yang hampir sama terjadi di beberapa negara Eropa. Ini akan mendorong potensi pertumbuhan negatif di kuartal IV-2020. Peningkatan langkah penguncian ekonomi dapat menganggu proses pemulihan ekonomi dan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham dunia," kata Hans.
 
Dari dalam negeri, sentimen yang memengaruhi ialah penyusutan konsumsi masyarakat atau rumah tangga mencapai 3,49 persen pada kuartal III-2020. Hal ini yang mendorong ekonomi ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade.
 
Bank Indonesia, pada RDG November, menurunkan BI7 DRRR menjadi 3,75 persen dari sebelumnya empat persen untuk mendorong pertumbuhan kredit agar dapat menggerakan perekonomian.
 
Di kuartal IV-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di level minus satu persen hingga 0,4 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan akan berada di level minus 1,7 persen hingga 0,6 persen.
 
"Baru diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan membaik di 2021 menjadi 4,5 persen sampai 5,5 persen. Tetapi hal ini sangat terpengaruh oleh vaksin covid-19," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif