Hary Tanoesoedibjo. Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Hary Tanoesoedibjo. Foto: Antara/Muhammad Adimaja

Perusahaan Hary Tanoe Kembali Digugat Pailit

Ekonomi emiten
Annisa ayu artanti • 05 Agustus 2020 14:06
Jakarta: KT Corporation kembali menggugat pailit perusahaan Hary Tanoesoedibjo, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).
 
Gugatan ini bukan pertama kali yang diajukan perusahaan asal Korea Selatan tersebut kepada Global Mediacom. Sebelumnya KT Corporation juga pernah menggugat anak usaha salah satu orang terkaya Indonesia itu ke Arbitrase Pengadilan Internasional (ICC) atas tindakan wanprestasi terhadap perjanjian Put and Call Option Agreement tertanggal 9 Juni 2006 (Perjanjian Opsi).
 
Perkara tersebut diputus pada 18 November 2010. BMTR diwajibkan melakukan pembelian 406.611.912 lembar saham PT Mobile-8 Telecom Tbk (Smartfren) milik KT Corporation dengan harga sebesar USD13.850.966 ditambah dengan bunga yang perhitungannya dimulai sejak 6 Juli 2009.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, Global Mediacom juga diwajibkan membayar USD731.642 untuk biaya hukum dan lain-lain, serta sebesar USD238 ribu sebagai biaya arbitrase.
 
Namun hal tersebut dibantah manajemen yakni Chief Legal Counsel Global Mediacom Christophorus Taufik yang menyatakan gugatan tersebut hanya mencari sensasi.
 
Ia menjelaskan gugatan tersebut tidak berdasar dan tidak valid karena perjanjian telah dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan negeri Jakarta Selatan No. 97/Pdt.G/2017/PN.Jak.Sel tanggal 4 Mei 2017.
 
Selain itu gugatan KT Corporation juga dipertanyakan validitasnya. Pasalnya, pada 2003 yang berhubungan dengan perusahaan adalah KT Freetel Co.ltd dan kemudian pada 2006 hubungan beralih kepada PT KTF Indonesia.
 
"Terkesan permohonan diajukan sebagai bagian dari upaya mencari sensasi di tengah kondisi ekonomi dunia yang sedang menghadapi pandemi covid-19," kata Christophorus dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 5 Agustus 2020.
 
Ia juga menjelaskan bahwa kasus ini merupakan kasus lama, sudah lebih dari sepuluh tahun.
 
"Bahkan KT Corporation sudah pernah juga mengajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung dan ditolak berdasarkan putusan Mahkamah Agung No.104PK/Pdt.G/2019 tanggal 27 Maret 2019," ujarnya.
 
Pada 3 Agustus 2020, Corporate Secretary Global Mediacom Abuzzal Abusaeri memberikan pernyataan bahwa sehubungan dengan gugatan tersebut pihaknya akan mengklarifikasi dan menempuh jalur hukum. Upaya tersebut dilakukan untuk melindungi hak-hak perseroan.
 
"Bahwa atas permohonan ini, nilai yang diklaim oleh KT Corporation sebagaimana telah dijelaskan dalam butir 1 di atas adalah sebesar USD14,82 juta atau setara dengan Rp214,89 miliar. Nilai ini tidak material dibandingkan dengan nilai aktiva perseroan sebesar Rp30,56 triliun," kata Abuzzal.
 
Adapun KT Corporation merupakan penyedia jasa layanan telekomunikasi terintegrasi berbasis di Korea Selatan.
 
KT Corporation memiliki layanan utama seperti suara seluler, telepon kabel, broadband, dan layanan media, yang terdiri dari IPTV dan TV satelit. KT Corporation juga memiliki portofolio usaha di bidang layanan keuangan dan real estate.

 
(DEV)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif