Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan - - Foto: MI/ Ramdani

OJK Dorong Intermediasi Perbankan di Sektor Usaha yang Mulai Pulih

Ekonomi OJK Perbankan Kredit jasa keuangan
Husen Miftahudin • 26 November 2020 13:20
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kinerja intermediasi sektor jasa keuangan masih sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari data Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pada Oktober 2020 masih tumbuh di level tinggi sebesar 12,12 persen (yoy), didorong oleh pertumbuhan DPK BUKU IV yang mencapai 13,79 persen (yoy).
 
Sementara itu, perbankan mencatatkan kredit baru sebesar Rp130,92 triliun, namun tingginya pelunasan kredit dan hapus buku oleh perbankan untuk memitigasi risiko kredit menyebabkan pertumbuhan kredit terkontraksi sebesar minus 0,47 persen (yoy). Kontraksi kredit perbankan lebih banyak disebabkan menurunnya kredit modal kerja dampak masih tertekannya permintaan pada sektor usaha.

 
"OJK akan mendorong intermediasi perbankan pada beberapa sektor usaha yang mulai kembali pulih seperti asuransi dan dana pensiun, jasa penunjang perantara keuangan, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, serta sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang," kata Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resminya, Kamis, 26 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun data di industri keuangan nonbank, piutang perusahaan pembiayaan terkontraksi sebesar minus 15,7 persen (yoy) seiring belum pulihnya pasar kendaraan bermotor yang merupakan sektor ekonomi dengan kontribusi terbesar dalam pembiayaan.
 
Sementara, industri asuransi tercatat menghimpun pertambahan premi sebesar Rp26,6 triliun, terdiri dari asuransi jiwa yang mencapai sebanyak Rp18,1 triliun serta asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp8,5 triliun.
 
"Sedangkan fintech peer to peer lending (pinjaman online) per Oktober 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp13,24 triliun atau tumbuh sebesar 18,4 persen (yoy)," ungkapnya.
 
Hingga 24 November 2020, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten di pasar modal mencapai 149 dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp100,1 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 44 di antaranya dilakukan oleh emiten baru.
 
"Dalam pipeline saat ini terdapat 58 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp21,76 triliun," imbuh dia.
 
Di sisi lain Anto menyampaikan bahwa OJK sudah memutuskan untuk memperpanjang masa waktu kebijakan restrukturisasi kredit perbankan yang seharusnya selesai pada Maret 2021 menjadi Maret 2022, dengan penambahan substansi yang lebih detail terkait penerapan manajemen risiko yang dilakukan oleh bank dalam penerapan perpanjangan restrukturisasi.
 
"Serta, perlakuan relaksasi dan self assessment penambahan alternatif governance untuk persetujuan restrukturisasi dan tata cara self assessment yang dapat dilakukan bank per Januari 2021," tuturnya.

 
Anto menegaskan OJK akan terus mengoptimalkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui penguatan peran sektor jasa keuangan. OJK juga berkomitmen kuat untuk mendukung program percepatan pemulihan ekonomi nasional dan siap mengeluarkan kebijakan stimulus lanjutan secara terukur dan tepat waktu untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
 
"OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk terus menjaga stabilitas sistem keuangan," pungkas Anto.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif