Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida - - Foto: MI/ Bary Fathahilah
Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida - - Foto: MI/ Bary Fathahilah

Wakil Ketua OJK Beberkan Langkah Hadapi Disrupsi Teknologi

Ekonomi OJK teknologi Revolusi Industri 4.0
Husen Miftahudin • 20 Oktober 2020 17:07
Jakarta: Revolusi industri 4.0 dan meluasnya dampak pandemi covid-19 memaksa institusi dan perusahaan menerapkan digitalisasi dalam setiap layanan dan operasional bisnis. Dalam menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang ini perlu didukung kepemimpinan yang memiliki pandangan secara holistik dan mementingkan keberlanjutan.
 
Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida memaparkan tiga langkah yang perlu dilakukan setiap pemimpin institusi dan perusahaan di tengah era digitalisasi. Pertama, memahami gangguan digital dan dampaknya terhadap perekonomian dan sektor keuangan.
 
"Kedua, mengembangkan kapasitas model kepemimpinan baru yang mengintegrasikan hati yang terbuka, pikiran yang jernih, dan juga tindakan berani untuk dapat merangkul revolusi industri 4.0 dan menjadikan perusahaannya tangguh dan berkelanjutan," ujar Nurhaida dalam webinarHarnessing The Asian Spiritdi Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketiga, lanjutnya, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pemimpin terkait digitalisasi dan potensinya. Soal ini, Nurhaida menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan di jajaran pimpinan perusahaan agar selaras saat mendorong ekosistem yang berkelanjutan di tingkat internal.
 
"Penting memperkenalkan tujuan kita untuk menyebarkan era baru ekonomi dan paradigma organisasi dalam menciptakan masyarakat 5.0 di era teknologi eksponensial melalui kepemimpinan holistik, refleksi pribadi, dan juga etika bisnis," tegas dia.
 
Menurut Nurhaida, ketiga langkah ini perlu diadaptasi institusi dan perusahaan di tengah era digitalisasi seperti saat ini. Sebab dengan adanya disrupsi teknologi yang timbul akibat kehadiran digitalisasi membuat institusi dan perusahaan dihadapi dengan tantanganvolatility(mudah berubah),uncertainty(penuh ketidakpastian),complex(kompleks), danambiguity(tidak tentu) atau VUCA.
 
"Inilah kondisi bisnis saat ini yang juga kita hadapi di pasar keuangan. Kondisi ini juga ditambah dengan kondisi baru yang kita hadapi, yaitu pandemi covid-19. Sehingga setiap orang dan setiap perusahaan di dunia harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru di sektor bisnis," paparnya.
 
Dengan memahami tantangan VUCA, setiap pemimpin akan membuat keputusan secara kritis. Dengan begitu, pengelolaan risiko bisnis yang dihadapi perusahaan akan mampu diatasi sehingga dapat menciptakan kenyamanan terhadap bisnis perusahaan.
 
"Melalui VUCA, sebuah perusahaan akan memiliki kemampuan tentang kapasitas untuk menangani masalah, mengatasi berbagai kesulitan, dan menemukan solusi," pungkas Nurhaida.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif