Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto

Penantian Keputusan Suku Bunga The Fed Giring Rupiah ke Zona Merah

Husen Miftahudin • 18 Januari 2022 17:06
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini mengalami pelemahan gara-gara penantian para investor terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve.
 
"Dalam perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 12 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 25 poin di level Rp14.336 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.324 per USD," ungkap analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam siaran persnya, Selasa, 18 Januari 2022.
 
Ibrahim mengungkapkan investor saat ini tengah menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve AS, yang akan diturunkan pada 26 Januari 2022. Bank sentral AS tersebut mengindikasikan mereka dapat menaikkan suku bunga pada Maret 2022 untuk mengekang inflasi yang tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Asia Pasifik, Bank of Japan mempertahankan suku bunganya tidak berubah pada minus 0,10 persen karena mengeluarkan keputusan kebijakannya pada hari sebelumnya.
 
Di tempat lain, People's Bank of China (PBOC) memicu ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut setelah menurunkan suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun sebesar 10 basis poin menjadi 2,85 persen. Mereka juga memangkas suku bunga perjanjian pembelian kembali terbalik tujuh hari menjadi 2,1 persen dari 2,2 persen.
 
"Pergerakan PBOC sangat kontras dengan serangkaian kenaikan suku bunga yang diharapkan secara luas dari The Fed dalam 2022. Bank sentral di Indonesia, Malaysia, Norwegia, Turki, dan Ukraina juga akan menjatuhkan keputusan kebijakan masing-masing pada Kamis," terangnya.
 
Sementara itu, pasar kerja global akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari perkiraan sebelumnya. Pengangguran diatur untuk tetap di atas level sebelum covid-19 hingga setidaknya 2023 karena ketidakpastian tentang perjalanan dan durasi pandemi.
 
Dari faktor domestik, pelemahan rupiah ditahan oleh membaiknya data ekonomi Indonesia dari surplus neraca perdagangan yang mencapai USD35,54 miliar. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada Desember 2021 sebesar USD22,38 miliar atau tumbuh 35,30 persen (yoy) dan negatif 2,04 persen (mtm). Sementara impor pada Desember 2021 mencapai USD21,36 miliar atau naik 47,93 persen (yoy) dan 10,52 persen (mtm).
 
"Maka artinya, surplus mencapai USD1,02 miliar sepanjang 2021. Surplus yang terjadi di Desember 2021 ini merupakan surplus selama 20 bulan secara beruntun," terang Ibrahim.
 
Sepanjang 2021, nilai ekspor mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode 2020. Nilai ekspor mencapai USD231,54 miliar, naik 41,88 persen dibandingkan 2020 yang sebesar USD163,19 miliar. Sedangkan untuk total impor mencapai USD196,20 miliar, meningkat 38,59 persen dibandingkan 2020 yang sebesar USD141,57 miliar.
 
"Meski demikian, kinerja perdagangan internasional Indonesia sepanjang 2021 patut diacungi jempol. Selama 2021, tidak pernah sebulan pun neraca perdagangan mengalami defisit. Kali terakhir neraca perdagangan berada di teritori negatif adalah pada April 2020," pungkas Ibrahim.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif