Ilustrasi Bank BRI - - Foto: dok MI
Ilustrasi Bank BRI - - Foto: dok MI

Relaksasi Kredit BRI Capai Rp95,3 Triliun untuk UMKM

Ekonomi kredit bri umkm
Antara • 15 Mei 2020 19:43
Jakarta: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melakukan restrukturisasi kredit kepada 1,38 juta debitur usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terdampak covid-19. Nilai portofolionya mencapai Rp95,3 triliun hingga 30 April 2020.
 
“Kami memetakan nasabah terdampak, menetapkan kriteria dan skema relaksasi yang dibutuhkan dan kami melakukan restrukturisasi,” kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat, 15 Mei 2020.
 
Sunarso menambahkan BRI juga memberikan restrukturisasi kredit kepada pelaku usaha non UMKM mencapai hampir 25 ribu debitur dengan nilai portofolio Rp5,85 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada empat skema dalam pemberian kelonggaran kredit kepada debitur UMKM. Skema pertama yakni jika omzet menurun hingga 30 persen, bank pelat merah tersebut akan menurunkan tingkat suku bunga dan jangka waktu kredit diperpanjang.
 
Selanjutnya skema kedua, debitur yang omzetnya turun 30-50 persen diberikan penundaan pembayaran bunga dan angsuran pokok selama enam bulan.
 
Untuk penurunan omzet 50-70 persen, BRI memberikan penundaan pembayaran bunga selama enam bulan dan penundaan angsuran pokok 12 bulan. Skema terakhir jika penurunan omzet lebih dari 75 persen maka penundaan bayar bunga dan pokok akan berlaku selama 12 bulan.
 
Serupa, kredit konsumer juga mendapatkan kelonggaran melalui tiga skema. Pertama bagi debitur yang penghasilannya menurun hingga 10 persen maka mendapatkan perpanjangan jangka waktu kredit maksimal 12 bulan, pokok dan bunga tetap dibayarkan.
 
Skema kedua, debitur yang penghasilannya anjlok 10-30 persen, diberikan penundaan pembayaran angsuran pokok maksimal 12 bulan dan pembayaran bunga lebih ringan.
 
Kemudian skema ketiga, penurunan penghasilan di atas 30 persen, diberikan penundaan angsuran pokok dan bunga maksimal 12 bulan. Untuk segmen korporasi dan menengah yang omzetnya turun 20 persen atau terdampak gejolak kurs.
 
“Korporasi dan menengah ini tidak atas dasar kebijakan pemerintah tetapi business to business,” pungkas dia.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif