Ilustrasi. Foto:Medcom.id
Ilustrasi. Foto:Medcom.id

Asuransi Digital Jadi Peluang Jangkau Masyarakat di Masa Pandemi

Ekonomi asuransi
Eko Nordiansyah • 30 Juli 2020 22:15
Jakarta: Digitalisasi di era yang penuh tekanan seperti saat ini adalah sebuah keniscayaan. Penerapan teknologi membawa model bisnis baru yang menguntungkan bagi perusahaan dan juga nasabah. Selain itu, digitalisasi juga mendukung kemudahan dan kecepatan yang menjadi gaya hidup yang dipilih para milenial.
 
Penerapan teknologi digital juga diharapkan di asuransi untuk mendorong penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah. Melalui produk-produk asuransi yang lebih simple, dan klaim yang bisa dilakukan secara digital, diharapkan dapat menepis kesan bahwa asuransi rumit dan sulit diklaim.
 
Digitalisasi di asuransi kini diwarnai oleh makin maraknya kehadiran insurtech yang fokus menawarkan produk dan layanan asuransi yang bisa diakses dengan platform digital. Insurtech yang kita kenal umumnya adalah seperti pemasaran asuransi melalui platform digital.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karena kemudahannya itulah, jalur distribusi ini dirasa sangat tepat untuk mendorong penetrasi asuransi. Keuntungan lainnya, adalah insurtech dapat meminimalkan biaya asuransi sehingga lebih efeisien. Pemasaran asuransi secara digital juga lebih efektif dalam proses bisnis asuransi.
 
Deputi Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Ihsanuddin mengatakan literasi asuransi pertumbuhannya masih lambat, serta densitas dan penetrasi juga masih rendah. Untuk IKNB, yang tumbuh cukup pesat adalah pegadaian dan fintech. Ihsanuddin mengatakan, ditengah kondisi ekonomi yang saat ini mengalami kontraksi memang agak sulit untuk memasarkan asuransi.
 
“Selama ekonomi belum membaik, atau income masyarakat belum pulih, dan industry asurasi belum sehat, tidak mudah memasarkan asuransi. Apalagi dengan model bukan face to face” kata dia dalam diskusi 'Peluang dan Tantangan Asuransi di Era Digital' di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2020.
 
Chairman Infobank Institute Eko B. Supriyanto menambahkan, insurtech untuk saat ini baru sebatas potensi, namun memiliki potensi yang sangat besar. Menurutnya, asuransi saat ini masih dibayangi risiko reputasi akibat gagal bayar yang terjadi di beberapa asuransi. Karena itu, tambahnya, harapannya OJK dapat mengatur lebih prudent industry asuransi ini dengan pendekatan risk.
 
“Asuransi akan baik kalau ekonominya baik, namun ekonomi sendiri saat ini masih terkontraksi. Saya berharap OJK sudah mulai membuat beberapa aturan, bukan mengetatkan tetapi memang asuransi harus diatur lebih ketat dan lebih jelas. Karena asuransi juga menjaring dana masyarakat,” ungkapnya.
 
Sementara itu, Director & Chief of Partnership Distribution Officer PT Asuransi Allianz Life Indonesia Bianto Surodjo menambahkan, bisnis digital diakui membantu asuransi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, pesatnya perkembangan pada payment system akan diikuti pula oleh asuransi. Ia menambahkan, jika mau berkembang lebih cepat, maka asuransi harus memasukkan ekosistem digital.
 
"Mungkin Perjalanan asuransi akan mengikuti jejak payment ini, hanya start poinnya saja yang berbeda. Di Asuransi umum sudah berjalan, menempelkan asuransi perjalanan ke platform perjalanan. Allianz juga sudah memulai menerapkan ini dengan bekerja sama dengan bukalapak misalnya, untuk menawarkan asuransi kesehatan dan jiwa," jelas dia.
 
Dengan pengguna internet yang besar dan sangat aktif terutama oleh para kaum milenial di Indonesia, insurtech menjadi solusi dalam mendorong penetrasi dan pertumbuhan asuransi di Indonesia.
 
Berdasarkan data OJK, jumlah aset asuransi sampai dengan Mei 2020 mencapai Rp1.313 triliun, tumbuh 1,43 persen secara year on year. Pangsanya mencapai 53,02 persen dari total asset IKNB yang mencapai Rp2.476 triliun.
 

(DEV)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif