Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

Ekonom: Rupiah dan Obligasi Sedang Pulih

Ekonomi rupiah obligasi Pemulihan Ekonomi
Husen Miftahudin • 16 Juni 2020 13:41
Jakarta: Pemerintah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara bertahap dan masuk ke dalam masa transisi. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pun telah memberikan izin kepada 102 kabupaten/kota untuk memulai kembali kegiatan ekonomi.
 
Alhasil, pasar keuangan domestik mulai membaik. Bahkan rupiah dan obligasi Indonesia sedang dalam tahap pemulihan di kuartal kedua setelah pada kuartal I-2020 tertekan lantaran aksi jual para investor akibat sentimen global.
 
"Rupiah telah memangkas sebagian besar kerugiannya pada awal Juni dan keluar sebagai pemain unggul di kawasan. Namun, penguatan rupiah akan membuatnya rentan terhadap pembelian saham yang telah mencapai titik support dalam jangka pendek," kata ekonom DBS Group Research Radhika Rao dalam keterangannya yang diterima Medcom.id, Selasa, 16 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara, imbal hasil obligasi berjangka 10 tahun secara bertahap mengalami kenaikan seiring dengan dukungan kombinasi bank sentral, permintaan bank, serta kembalinya investor asing ke pasar keuangan dalam negeri. Meski di sisi lain masih ada kemungkinan terjadinya gejolak di pasar obligasi.
 
"Namun demikian, jaminan Bank Indonesia untuk secara aktif melakukan intervensi di pasar primer dan sekunder kemungkinan akan mencegah penurunan tajam dalam pergerakan harga obligasi," tuturnya.
 
Menurut Radhika investor lokal memberikan dukungan penuh terhadap pasar utang rupiah di tengah banyaknya obligasi yang diterbitkan. Termasuk pada saat investor asing memangkas kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN).
 
Perubahan kepemilikan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah antara Januari hingga Mei 2020 menunjukkan bahwa bank-bank domestik telah menambah kepemilikan mereka. Diikuti oleh Bank Indonesia dan lembaga-lembaga non-bank.
 
"Pembelian oleh BI di pasar primer telah mencapai Rp26 triliun sejak awal tahun hingga saat ini dibandingkan dengan Rp1 triliun yang diterbitkan pada tahun ini," urainya.
 
Radhika optimistis faktor eksternal memberi harapan bagi pemulihan pasar keuangan domestik secara keseluruhan di kuartal II-2020. Pasalnya penurunan ekspor yang dibarengi dengan tajamnya pelemahan impor bakal memperkuat neraca perdagangan.
 
"Ini berarti neraca berjalan kemungkinan rendah, di minus 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Neraca dasar pembayaran, misalnya investasi asing langsung plus neraca berjalan kemungkinan akan tetap mencatat surplus kecil," jelas dia.
 
Sementara itu, cadangan devisa telah beranjak dari titik terendahnya. Kondisi ini diyakini dapat membantu meningkatkan cadangan untuk menutupi biaya impor.
 
Selanjutnya, dukungan lewat transaksi mata uang asing (FX swap) dengan bank sentral regional dan global, serta lembaga multilateral bersama dengan fasilitas repo senilai USD60 miliar dengan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve.
 
"Tidak hanya meringankan tekanan akibat kekurangan USD pada kuartal pertama, tetapi juga menghapus kekhawatiran akan kekuatan USD yang terbatas terhadap gejolak global. Upaya ini dilakukan bank sentral untuk menjaga pasar tetap stabil," tutup Radhika.
 

(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif